- Pengartian Filsafat Sebagai Ilmu Pengetahuan
Filsafat dipahami sebagai induk dari
segala ilmu pengetahuan, dataran dan objek kajian filsafat adalah mempersoalkan
hakikat dari segala yang ada. Dalam arti praktisnya filsafat adalah
proses berfikir yang hanya dimiliki oleh manusia dengan potensi akalnya. Proses
akal yang ada pada manusia merupakan anugrah yang paling berharga, kerena
dengan akal tersebut manusia mampu melahirkan ilmu pengetahuan serta dapat
memecahkan fenomena dibalik fakta. Manusia yang menggerakkan akalnya
dikatakan seorang filusuf (mujtahid), akan tetapi ada beberapa hal yang
harus dimiliki dalam berfikir secara filsafati, salah satu ciri dari berfikir
secara filsafat antara lain: radikal, universal, konseptual, kohere,
konsisten, sistematik, komprehensif, bertanggung jawab (Hasan Hanafi 1982:26)
Filsafat secara etimologi adalah ”cinta
kepada pengetahuan” perkataan filsafat yang sampai kepada kita berasal dari
bahasa arab “falsafah” bahasa arab itu bukan bahasa aslinya, melainkan berasal
dari bahasa yunani “philosophia” yang merupakan kata majemuk yaitu “philo dan
sophia.
Dari bahasa arab tersebut dikenal
dengan kata hikmah dan hakim. Kata ini bisa kita terjemahkan menjadi filsafat
dan filosof. Hikmah adalah perkataan yang tertinggi yang bisa dicapai oleh
manusia dengan melalui panca indera yang ada. Yaitu melalui akalnya sebagaimana
firman Allah dalam Al-Qur’an:
Artinya: Allah menganugerahkan Al
hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah
dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang
dapat mengambil pelajaran dari firman Allah (Q.S. Al Bararah Ayat 269).
Datangnya hikmah bukan hanya melalui
penglihatan saja, melainkan juga dapat melalui hati, insting dan perenungan
terhadap kekuasaan-Nya sebgaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an:
Artinya: maka apakah mereka tidak
berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat
memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di
dalam dada (Q.S.
A-Hajj Ayat 46).
Dari pengertian tersebut dapat
dirumuskan bahwa filsafat memiliki arti pengetahuan secara luas: pengetahuan
tentang hikmah pengetahuan tentang prinsip-prisip dasar mencari kebenaran dan
membahas dari apa yang akan dibahas.
Dengan demikian bahwa filsafat
menurut para filosof (Katssof, 1984: 1-4) Aristoteles, Plato, Secrotes,
Al-kindi, Ibnu Sina, Immanuel Kant dan filosof yang lainya dipahami sebagai
“daya upaya manusia dengan akal dan budinya untuk memahami, dan menyelami
secara radikal dan integral serta sistematik mengenai kebenaran (ketuhanan)
alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan ilmu pengetahuan
sebagaimana hakekat ilmu pengetahuan itu “
Malalui metode filsafat maka dapat melahirkan
ilmu pengetahuan, perkembangan ilmu pengetatahuan dewasa ini adalah berkat
adanya berfikir secara filsafati. Proses filsafat secara seistematik adalah
untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada dalam realitas sosial. Oleh
karena itu pembahasan ini mengaitkan filsafat dengan manajemen pendidikan
sehingga persoalan-persoalan yang terkait dengan manajemen dapat dijawab secara
sistematis dan rasional.
- Filsafat Ilmu Manajemen
Dari pengartian filsafat secara umum
tersebut, maka relevansi filsafat dengan manajemen dapat melahirkan teori
filsafat sebagai berikut antara lain :
- Filasafat idealisme (suatu keadaan yang amat sempurna yang menjadi pola dari segala sesuatu yang kita dapati didunia ini), filsafat ini diterapkan dalam manajemen marxis dan codetermination yang popular di Negara sosialis, jerman dan skandinavia. (Bennet silalahi (2001) : 1)
- Filsafat realisme (dunia ini dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah), filsafat ini beriringan dengan revolusi industri inggeris yang disusun Frederick W. taylor.
- Filsafat neo-thomisme (kenyataan itu rasio, keadaan, dan Tuhan sedangkan kebenaran adalah intuisi, segala sesuatu yang masuk akal dan yang diwahyukan Tuhan) banyak dipraktikan oleh manajemen katholik yang merujuk pada bible
- Filsafat pragmatisme (pengalaman dan segala sesuatu yang dapat dialami oleh manusia, keberanaran dapat dilihat dari pendapat umum) yang banyak merujuk pada manajemen yang berlaku umum mellaui opini public.
- Filsafat eksistensialisme (kenyataan adalah eksistensi atau keadaan yang menyerupai itu, kebenaran adalah pendapat yang sejalan dengan pandangan pribadi seseorang), peran manusia menjadi perhatian utama.
- Pengertian Manajemen
Manajememen berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai
ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki
untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien.
Sementara pemahaman yang lain
Manajer adalah seorang yang karena pengalaman, pengetahuan, dan keterampilannya
diakui oleh organisasi untuk memimpin, mengatur, mengelola, mengendalikan dan
mengembangkan kegiatan organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Tugas-tugas
seorang manajer adalah :
- Memimpin organisasi
- Mengatur organisasi
- Mengendalikan organisasi
- Mengembangkan organisasi
- Mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam organisasi
- Menciptakan kerja sama di dalam organisasi.
- Menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di luar organisasi
- Menumbuhkan kepercayaan
- Meningkatkan rasa tanggung jawab
- Mengawasi/mengendalikan kegiatan organisasi
- Melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan
- Menggali dan mengembangkan potensi sumber daya
Ilmu manajemen merupakan suatu
kumpulan pengetahuan yang disistemisasi, dikumpulkan dan
diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah
dalam manajemen. Metode ilmiah pada hakikatnya meliputi urutan kegiatan sebagai
berikut.
- Mengetahui adanya persoalan.
- Mendefinisikan persoalan.
- Mengumpulkan fakta, data dan informasi.
- Menyusun alternatif penyelesaian.
- Mengambil keputusan dengan memilih salah satu alternatif penyelesaian.
- Melaksanakan keputusan serta tindak lanjut.
Selain manajemen sebagai ilmu,
manajemen juga dianggap sebagai seni. Hal ini disebabkan oleh kepemiminan memerlukan kharisma,
stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan
menjalin hubungan antaramanusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh
bakat seseorang dan tidak dapat dipelajari.
Banyak
kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Beberapa orang
melihatnya (dengan definisi) sebagai konseptualisasi modern yang terlambat
(dalam hal modernitas yang terlambat). dalam istilah tersebut manajemen tidak
memiliki sejarah pra-modern, hanya merupakan pertanda. Beberapa orang lainnya,
mendeteksi aktivitas mirip-manajemen di masa pra-modern akhir. beberapa penulis
melacak perkembangan pemikiran manajemen pada pedagang-pedangan Sumeria dan
pembangun piramid Mesir. Para pemilik budak selama berabad-abad menghadapi
permasalahan eksploitasi/memotivasi budak yang bergantung namun terkadang suka
melawan (memaksa otoritas), namun banyak perusahaan pra-industri, dengan skala
mereka yang kecil, tidak merasa terdorong ungtuk menghadapi permasalahan
manajemen secara sistematis. namun, inovasi seperti penyebaran sistem angka
Hindu-Arab (abad ke-5 hingga ke15) dan kodifikasi kesekretariatan entri-ganda
(1494) menyediakan perangkat untuk penilaian, perencanaan dan kendali
manajemen. Beberapa penulis melacak pengembangan manajemen sejauh perdagangan
di Sumeria dan pembangunan piramid di Mesir. Abad 19 Bidang pelajaran manajemen
berkembang dari ekonomi dalam abad 19. Pelaku Ekonomi klasikAdam Smith dan John Stuart Mill memberikan teori teori pengaturan
sumber daya| pengaturan sumber daya, produksi dan penetapan harga. Pada saat yang hampir bersamaan,
penemu seperti Eli Whitney, James Watt, dan Matthew Boulton mengembangkan teknik produksi
seperti Penetapan standar, prosedur kontrol kualitas, akuntansi
biaya, penukaran bahan, dan perencanaan kerja. Seperti pada
pertengahan abad 19, Robert Owen, Henry Poor, dan M. Laughlin dan lain-lain memperkenalkan elemen
manusia dengan teori pelatihan, motivasi, struktur organisasi
dan kontrol pengembangan pekerja.
Pada
akhir abad 19, Pelaku ekonomi marginal Alfred Marshall dan Leon Walras dan lainnya memperkenalkan lapisan
baru yang kompleks ke teori manajemen. Pada 1900an manajer mencoba mengganti teori
mereka secara keseleruhan berdasarkan sains. Abad 20 Teori pertama tentang manajemen yang lengkap
muncul sekitar tahun 1920. Orang seperti Henry Fayol dan Alexander Church menjelaskan beberapa cabang dalam
manajemen dan hubungan satu sama lain.
Peter Drucker menulis salah satu buku paling awal
tentang manajemen terapan: “Konsep Korporasi” (Concept of the Corporation),
diterbitkan tahun 1946. Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang menugaskan penelitian tentang organisasi.
H. Dodge, Ronald Fisher, dan Thorton C Fry memperkenalkan teknik statistika ke dalam manajemen. Pada tahun 1940an, Patrick Blackett mengkombinasikan teori statistika
dengan teori mikroekonomi dan lahirlah ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal
dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah
dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi. Mendekati akhir abad 20, manajemen terdiri
dari beberapa bidang terpisah, termasuk:
- Manajemen Sumber daya manusia
- Manajemen operasi atau produksi
- Manajemen strategi
- Manajemen pemasaran
- Manajemen keuangan
- Manajemen informasi teknologi
- Top management atau manajemen tingkat atas yang sering disebut dengan executive officer atau top manager.
- Middle management atau manajemen tingkat mengenah sering disebut kepala bagian.
- Lower management atau manejemen tingkat bawah yang dikenal pula dengan istilah manajemen opeerasional (supervisor, kepala seksi, dan mandor).
Masing-masing tingkat manajemen
memiliki keterampilan yang berbeda-beda. Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Agus
Mulyono, manajer harus memiliki tiga macam keterampilan, yaitu keterampilan
konsepsional, keterampilan kemanusiaan, dan keterampilan teknis.
Manajer tingkat atas (top manager)
harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan
organisasi. Keterampilan ini sering disebut
sebagai keterampilan kosepsional (conceptional skill). Gagasan atau ide
serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana
kegiatan untuk menciptakan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide
menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses
perencanaan. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan
keterampilan untuk membuat rencana kerja.
Selain kemampuan konsepsional,
manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau
keterampilan berhubungan dengan orang laion yang disebut juga keterampilan
kemanusiaan (human skill). Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan
oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang
[persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan
kemudian mereka akan bersikap terbutka kepada atasan. Keterampilan
kberkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, mengengah maupun
bawah.
Keterampilan terakhir yang merupakan
bekal bagi seorang manajer adalah keterampilan teknis (technical skill).
Keterampilan ini apda umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang
lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan
suatu pekerjaan tertentu, misalnya memperbaiki mesin, membuat kursi, merangkai
bbunga dan keterampilan teknis yang lain.
Prinsip dapat didefinisikan sebagai
suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum yang merupakan sebuah pedoman
untuk berpikir atau bertindak. Prinsip merupakan dasar, namun tidak bersifat
mutlak karena prinsip bukanlah umum. Dalam hubungannya dengan manajemen
prinsip-prinsip bersifat fleksibel dalam arti bahwa perlu di pertimbangkan
sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-sitauasi yang berubah.
Prinsip-prinsip umum manajemen (general principle of management) teridir dari:
- Pembagian Kerja (Division of Work)
Pembagian kerja harus disesuaikan
dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh
karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right
place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas
dasar like and dislike.
Dengan adanya prinsip the right
man in the right place akan memberikan jaminan terhadap kestabilan,
kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik
merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja
akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam
penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman
akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik
tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
- Wewenang Dan Tanggung Jawab (Authority And Responsibility)
Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan
setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung
jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan
pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil
wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya.
Tanggung jawab terbesar terletak
pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi
terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah
manajer puncak. oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai
keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.
- Disiplin (Discipline)
Disiplin merupakan perasaan taat dan
patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. Disiplin ini berhubungan
erat dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka
disiplin akan hilang. Oleh karena ini, pemegang wewenang harus dapat menanamkan
disiplin terhadap disrinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap
pekerajaan sesuai dengan weweanng yang ada padanya.
- Kesatuan Perintah (Unity Of Command)
Dalam melakasanakan pekerjaan,
karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan
kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus
bertanggung jawab sesui dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang
dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan
tanggung jawab serta pembagian kerja.
- Kesatuan Pengarahan (Unity Of Direction)
Dalam melaksanakan tugas-tugas dan
tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan
pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan pengarahan
tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja
terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh
karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk
pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan
tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan
(unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembaguan kerja, wewenang dan
tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.
- Mengutamakan Kepentingan Organisasi Di Atas Kepentingan Sendiri
Setiap karyawan harus mengabdikan
kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi. Hal semacam itu merupakan
suatu syarat yang sangat penting agar setiap kegiatan berjalan dengan loancar
sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik
Setian karyawan dapat mengabdikan
kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran
bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya
kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada
kepentingan orgabisasi dapat terwujud, apanila setiap karyawan merasa senang
dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.
- Penggajian Pegawai
Gaji atau upah bagi karyawan
merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja.
Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi
terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan
dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian haris dipikirkan
bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem penggajian harus
diperhitungkan agar menimbuulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga
karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more
pay for more prestige (upaya lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah
sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan
menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak
disiplin.
- Pemusatan (Centralization)
Pemusatan wewenang akan menimbulkan
pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan. Tanggung jawab terakhir terletak
ada orang yang memegang wewenang tertinggi atau manajer puncak. Pemusatan bukan
berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan wewenang, melainkan untuk
menghindari kesimpangsiurang wewenang dan tanggung jawab. Pemusatan wewenang
ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang (delegation of
authority)
- Hirarki (tingkatan)
Pembagian kerja menimbulkan adanya
atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup area yang cukup luas akan
menimbulkan hirarki. Hirarki diukur dari wewenang terbesar yang berada pada
manajer puncak dan seterusnya berurutan ke bawah. dengan adanya hirarki ini,
maka setiap karyawan akan mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab
dan dari siapa ia mendapat perintah.
- Ketertiban (Order)
Ketertiban dalam melaksanakan
pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa
bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan
dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai
disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat
dibutuhkan dalam mencapai tujuan.
- Keadilan Dan Kejujuran
Keadilan dan kejujuran merupakan salah satu
syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran
terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat
dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena
atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan
menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan
kejujuran pada bawahannya.
- Stabilitas Kondisi Karyawan
Dalam setiap kegiatan kestabilan
karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala pekerjaan berjalan dengan
lancar. Kestabilan karyawan terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan
adanya ketertiban dalam kegiatan.
Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila
keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan
menimbulkan goncangan dalam bekerja.
- Prakarsa (Inisiative)
Prakarsa timbul dari dalam diri
seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa menimbulkan kehendak untuk
mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan dengan
sebaik-beiknya. Jadi dalam prakarsa terhimpun kehendak, perasaan, pikiran,
keahlian dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang
dari karyawan harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai
orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap penolakan
terhadap prakarsa karyawan merupakan salah satu langkah untuk menolak gairah
kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima dengan senang
hari prakarsa-prakarsa yang dilahirkan karyawannya.
- Semangat Kesatuan, Semangat Korp
Setiap karyawan harus memiliki rasa
kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggyungan sehingga menimbulkan semangat
kerja sama yang baik. semangat kesatuan akan lahir apabila setiap karyawan
mempunyai kesadaran bahwa setiap karyawan berarti bagi karyawan lain dan
karyawan lain sangat dibutuhkan oleh dirinya. Manajer yang memiliki
kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp),
sedangkan manajer yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan
friction de corp (perpecahan dalam korp) dan membawa bencana.
Fungsi manajemen adalah
elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen
yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk
mencapai tujuan, seperti:
Manajer --------> Mengelola fungsi-fungsi -------->
Tujuan
Perencanaan
Organisasi
Pelaksanaan
Pengawasan
- Praktik Manajemen
Aplikasi dari filsafat melahirkan
beeberapa tahapan penerapan manajemen sebagaimana yang diungkapkan George R.
Terry (2006:67) membagi tahapan praktik manajemen antara lain :
- Manajemen partisipasi
- Manajemen berdasarkan hasil (result management)
- Manajemen memperkaya pekerjaan (job enrichment)
- Manajemen prioritas produktifitas
- Manajemen berdasarkan kemungkinan (contingency management)
- Manajemen pemanfaatan konflik
Sedangkan Odiorne membagi
praktek manajemen dengan filsafat sebagai berikut:
- Manajemen memaksa (1920-an dan 1930-an)
- Manajemen mementingkan hubungan kemanusiaan (1940-an)
- Manajemen menggunakan tekanan (1950-an)
- Manajemen menurut keadaan (1960-an)
Berbeda dengan yang dikemukakan oleh
Bennet Silalahi (2001:10) membagai praktik manajemen menjadi 5 tahapan antara
lain manajemen teknologis
- Manajemen administratif
- Manajemen sistem kemanusiaan
- Manajemen ilmiah
- Manajemen sasaran dan hasil
- Fungsi Filsafat Manajemen
Selain penerapan filsafat manajemen,
Aplikasi ilmu manajemen dapat kita lihat beberapa Fungsi manajemen yang
diungkapkan para ahli dan banyak fungsi-fungsi manajemen yang telah
dikemukakan,
- George R. Terry dalam bukunya priciples of management adalah POAC (planning, organizing, actuating dan controlling),
- Koontz, O’donnel & Nielander : perencanaan (planning), mengorganisasi (organizing), pengadaan (staffing), mengarahkan (directing) dan mengawasi (controlling),
- Henry Fayol (planning, organizing, commanding, cordinatong dan controlling),
- Luther M. Gullick : perencanaan (planning), mengorganisasi (organizing), pengadaan tenaga kerja (staffing), mengarahkan (directing), menyeleraskan/mengkoordinasikan (coordinating),melaporkan (reporting), menyusun anggaran (budgeting)
- Bennet Silalahi : perencanaan (planning), pengambilan keputusan (decision making) dan ketatalaksanaan (implementation) serta fungsi terakhir dipecahkan kembali menurut besar kecilnya perusahaan : membina organisasi (organizational development), memimpin (leading) dan mengawasi (controlling)
- Perencanaan
Perencanaan : adalah “Proses yang
diatur supaya suatu sasaran atau tujuan masa depan yang masih samar-samar
menjadi lebih jelas” (Silalahi, 2001:43). Atau bisa diartikan sebagai “keseluruhan
proses pemikiran dan penentuan secara matang daripada hal-hal yang akan
dikerjakan dimasa yang akan dating dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditentukan” (Siagian, 1997:108)
- William H. Newman (1962:15) : “planning is deciding in advance what is to be done” (penetuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan)
- Lousi A. Allen : planning is the determination of a course of action to achieve a desired result” (perencanaan adalah penentuans erangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan)
- Koontz & O’donnel : planning is function of manager which involves the selection from among alternative of objective, policies, procedures and programs (perencaan adalah fungsi seorang menejer yang berhubungan dengan pemilihan dari berbagai alternative daripada tujuan, kebijaksanaan, prosedur dan program.)
- George R. Terry (2006) : “tindakan memilih dan menghubungkan fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai amsa yang akan dating dalam hal memvisualisikana serta merumuskan aktifitas yang diusulkan yang dianggap perlu untuk mencapai ahsil yang dinginkan”
- Sasaran : tujuan yang dinginkan yang melukiskan skope yang jelas serta memberikan arah kepada usaha-usaha seorang menejer. Unsur dari sasaran secara umum meliputi : 1). Efisiensi organisasi, produktifitas tinggi dan memaksimalkan laba. 2). Pertumbuhan organisasi, kepemimpinan industrial dan stabilitas organisasi. 3). Pertimbangan dalam kesejahteraan pegawai. 4). Kepentingan sosial dan masyarakat.
- Sementara Jenis perencanaan
Strategi planning: perencanaan utama
meliputi perencanaan startegi umum/ pola dasar tujuan perusahaan, Strategi
manajemen : perencanaan departementasi yang harus dilaporkan setiap
tahun.Perencanaan adminsitrasi : perencanaan yang diatur secara terperinci dan
teknikal yang terdiri dari kegiatan dan tugas. (silalahi, 2001). George R.
Terry : jenis perencanaan meliputi : a) Prosedur (procedure) b) Metode
(methode) c). standar (standard) d) anggaran (budget) e). program (programs) f)
faktor teknis (tecno-factor)
- Unsur-unsur perencanaan
Rudyard Kipling dalam hidupan ada
enam pelayan yang bernama : what, why, where, when, how, who
- Tindakan apa yang harus dikerjakan
- Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan
- Dimanakah tindakan itu harus dilaksanakan
- Kapankah tindakan itu dilaksanakan
- Bagaimanakh cara pelaksanaan tidnakan tersebut
- Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu
Dr. Bennet silalahi (2001) : 1).
Penyelidikan (research), 2). penentuan sumber langka (scarce resources),
3). penentuan lingkungan, 4). penentuan kebijakan perusahaan, 5) penetuan
wahana (organisasi). Manullang (1977) : 1) tujuan perusahaan 2) politik 3).
Prosedur 4). Budget 5). Program. Louis Allen : 1) meramalkan (forecasting)
2). Menetapkan tujuan (establishing objectives), 3) mengacarakan (programming)
4). Meyusun tata waktu (scheduling) 5) menyusun anggaran (budgeting)
6). Memperkembangkan prosedur ( developing procedures) 7) menetapkan dan
menafsirkan kebijaksanaan (establishing & interpreting policy)
- Syarat-syarat perencanaan :
- Realistis praktis dan terarah dimana idealisme takluk kepada rasio dan rasio pada pengalaman
- Disusun oleh ahli dalam perencanaan yang sangat faham tujuan utama perusahaan
- Dapat dilaksanakan oleh manajemen tingkat atas, menengah dan bawah secara serempak
Ada juga berpendapat perencanaan :
- harus mempermudah tercapainya tujuan.
- harus dibuat orang yang memahami tujuan organisasi dan orang yang mendalami teknik perencanaan
- harus disertai rincian yang teliti
- harus sesaui dengan pemikiran pelaksanaan
- harus sederhana, luwes, pragmatis
- didalamnya ada tempat pengambilan resiko
- harus merupakan forecasting
- Proses perencanaan
- Seleksi sasaran
- Penilaian dampak lingkungan
- Mengadakan ramalan tentang perubahan
- Evaluasi kekuatan internal perushaan
- Mempertimbangkan berbagai alternatif tindakan bersama resiko dan imbalannya
- Pilihan alternatif terbaik
- Penentuan program spesifik, rencana dan prosedur pelaksanaan
- Evaluasi bersama hasil dan akibat perencanaan dalam rangka mengambil tindkaan perbaikan dan mengadakan perubahan sesaui dengan apa yang
- Pengorganisasi Dalam Pendidikan
Dalam arti badan, organisasi adalah sekelompok
orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu, dalam arti bagan,
organisasi adalah gambaran skematis tentang hubungan kerjasama antara
orang-orang yang terdapat dalam suatu badan untuk mencapai suatu tujuan dan
dalam arti dinamis, organisasi adalah suatu proses penetapan dan pembaian
pekerjaan, pembatasan tugas dan tanggungjawab serta penetapan hbungan antara
unsur-unsur organisasi sehingga memungkinkan orang bekerjasama secara efektif
untuk mencapai tujuan (M. Fuad, 2001:102)
Istilah organisasi yang
didefinisikan secara statis diartikan sebagai suatu gambaran secara skematis
tentang bagian-bagian tugas dan tanggungjawab dan hbungan bagian yang terdapat
dalam sesautu badan atau suatu lembaga sedangkan secara dinamis diartikan
sebagai suatu proses penetapan dan pembagian pekerjaan yang akan dialkukan,
pembatasan tugas-tugas atau tangungjawab serta wewenang dan penetapan hbungan
antara unsure organisasi sehingga memungkinkan orang-orang dapat bekerja
bersama-sama sefektif mungkin untuk pencapaian tujuan. (Manulang, 1971:49)
- Organisasi sebagai wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama untuk merealisasikan tujuannya (B.S. Wibowo, 202:315)
- Organisasi diartikan sebagai a consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable boundary that functions on a relatively continuous basis to achive a common goal or set of goals (stphen P. Robbins, 1990:4)
- Organization are relatively permanent social entities characterized by goal-oriented behavior, specialization and structure (Warren B. brown, 1980:2)
- Pengorganisasian diartikan sebagai suatu tindakan mengusahakan hubungan kelakukan yang efektif antara orang-orang, hingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu.(George R.Terry, 2006:233)
- Tujuan mengorganisasi :
- Mempermudah melaksanakan tugas.
- Mempermudah pimpinan untuk mengawasi bawahan
- Agar tertuju pada tujuan tertentu
- Untuk dapat menentukan orang yang dibutuhkan untuk menjabat tugas-tugas yang sudah dibagi-bagi
- Prinsip Organisasi
- Principle of objective; Tiap organisasi harus mempunyai tujuan yang tertentu dan jelas
- The principle of functional organization; Suatu organisasi harus didirikan diatas fungsi-fungsi utama yang diperlukan untuk mencapai tujuan efisien
- The principle of balance; Berbagai bagian dari organisasi harus mempunyai kebutuhan yang berimbang sesuai dengan fungsi bagian tersebut dalam mencapai tujuan organisasi
- The principle of specialization; Organisasi harus dibagi sehingga aktiftas seseorang anggota organisasi sedapat mungkin dibatasi pada pelaksanaan satu fungsi saja.
- The principle of continuity; Organisasi harus mengambarkan jenjang kenaikan tingkat dalam strukturnya agar suplai kemampuan manajerial yang sangat diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidupnya dapat terlaksana secara berkeinambungan
- The principle of flexibility; Organisasi dan rencana kerjanya harus lentur untuk menghadapi keadaan usaha yang terus menerus berubaha, persaingan, pengaruh luas, perluasan.
- The principle of simplicity; Rencana organisasi harus sederhana sedemikian rupa agar dapat mencpai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien
- The principle of unity of command; Setiap organisasi memerlukan seorang pemimpin tunggal dan setiap bawahan harus mempunyai haya seorang atasan
- The principle of span of control; Kemapuan seseorang untuk mengendalikan bawahan dengan efektif dan efisien, karena itu perlu ada jumlah bawahan seseorang
- The principle supervisory channels; Suatu organisasi harus diperlengkapi dengan garis kepengawsan secara tegas dari pucuk pimpinan sampai kepada para pelaksana
- The principle of communication; Oprganisai harus memungkinkan hubungan yang baik untuk pelaksnaan tiap tugas
- The principle of coordination
- Organisasi harus memungkinkan koordinasi yang baik dari tiap fungsi agar dicapai efisiensi uyang maksimal
- The principle of effectiveness; Organisasi harus memungkinkan efisiensi yang maksimum disertai dengan minimum usaha dan pengeluaran-pengeluaran lainnya dalam mencapai tujuannya
- Pengartian Filsafat Sebagai Ilmu Pengetahuan
Filsafat dipahami sebagai induk dari
segala ilmu pengetahuan, dataran dan objek kajian filsafat adalah mempersoalkan
hakikat dari segala yang ada. Dalam arti praktisnya filsafat adalah
proses berfikir yang hanya dimiliki oleh manusia dengan potensi akalnya. Proses
akal yang ada pada manusia merupakan anugrah yang paling berharga, kerena
dengan akal tersebut manusia mampu melahirkan ilmu pengetahuan serta dapat
memecahkan fenomena dibalik fakta. Manusia yang menggerakkan akalnya
dikatakan seorang filusuf (mujtahid), akan tetapi ada beberapa hal yang
harus dimiliki dalam berfikir secara filsafati, salah satu ciri dari berfikir
secara filsafat antara lain: radikal, universal, konseptual, kohere,
konsisten, sistematik, komprehensif, bertanggung jawab (Hasan Hanafi 1982:26)
Filsafat secara etimologi adalah ”cinta
kepada pengetahuan” perkataan filsafat yang sampai kepada kita berasal dari
bahasa arab “falsafah” bahasa arab itu bukan bahasa aslinya, melainkan berasal
dari bahasa yunani “philosophia” yang merupakan kata majemuk yaitu “philo dan
sophia.
Dari bahasa arab tersebut dikenal
dengan kata hikmah dan hakim. Kata ini bisa kita terjemahkan menjadi filsafat
dan filosof. Hikmah adalah perkataan yang tertinggi yang bisa dicapai oleh
manusia dengan melalui panca indera yang ada. Yaitu melalui akalnya sebagaimana
firman Allah dalam Al-Qur’an:
Artinya: Allah menganugerahkan Al
hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah
dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang
dapat mengambil pelajaran dari firman Allah (Q.S. Al Bararah Ayat 269).
Datangnya hikmah bukan hanya melalui
penglihatan saja, melainkan juga dapat melalui hati, insting dan perenungan
terhadap kekuasaan-Nya sebgaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an:
Artinya: maka apakah mereka tidak
berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat
memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di
dalam dada (Q.S.
A-Hajj Ayat 46).
Dari pengertian tersebut dapat
dirumuskan bahwa filsafat memiliki arti pengetahuan secara luas: pengetahuan
tentang hikmah pengetahuan tentang prinsip-prisip dasar mencari kebenaran dan
membahas dari apa yang akan dibahas.
Dengan demikian bahwa filsafat
menurut para filosof (Katssof, 1984: 1-4) Aristoteles, Plato, Secrotes,
Al-kindi, Ibnu Sina, Immanuel Kant dan filosof yang lainya dipahami sebagai
“daya upaya manusia dengan akal dan budinya untuk memahami, dan menyelami
secara radikal dan integral serta sistematik mengenai kebenaran (ketuhanan)
alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan ilmu pengetahuan
sebagaimana hakekat ilmu pengetahuan itu “
Malalui metode filsafat maka dapat melahirkan
ilmu pengetahuan, perkembangan ilmu pengetatahuan dewasa ini adalah berkat
adanya berfikir secara filsafati. Proses filsafat secara seistematik adalah
untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada dalam realitas sosial. Oleh
karena itu pembahasan ini mengaitkan filsafat dengan manajemen pendidikan
sehingga persoalan-persoalan yang terkait dengan manajemen dapat dijawab secara
sistematis dan rasional.
- Filsafat Ilmu Manajemen
Dari pengartian filsafat secara umum
tersebut, maka relevansi filsafat dengan manajemen dapat melahirkan teori
filsafat sebagai berikut antara lain :
- Filasafat idealisme (suatu keadaan yang amat sempurna yang menjadi pola dari segala sesuatu yang kita dapati didunia ini), filsafat ini diterapkan dalam manajemen marxis dan codetermination yang popular di Negara sosialis, jerman dan skandinavia. (Bennet silalahi (2001) : 1)
- Filsafat realisme (dunia ini dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah), filsafat ini beriringan dengan revolusi industri inggeris yang disusun Frederick W. taylor.
- Filsafat neo-thomisme (kenyataan itu rasio, keadaan, dan Tuhan sedangkan kebenaran adalah intuisi, segala sesuatu yang masuk akal dan yang diwahyukan Tuhan) banyak dipraktikan oleh manajemen katholik yang merujuk pada bible
- Filsafat pragmatisme (pengalaman dan segala sesuatu yang dapat dialami oleh manusia, keberanaran dapat dilihat dari pendapat umum) yang banyak merujuk pada manajemen yang berlaku umum mellaui opini public.
- Filsafat eksistensialisme (kenyataan adalah eksistensi atau keadaan yang menyerupai itu, kebenaran adalah pendapat yang sejalan dengan pandangan pribadi seseorang), peran manusia menjadi perhatian utama.
- Pengertian Manajemen
Manajememen berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai
ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki
untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien.
Sementara pemahaman yang lain
Manajer adalah seorang yang karena pengalaman, pengetahuan, dan keterampilannya
diakui oleh organisasi untuk memimpin, mengatur, mengelola, mengendalikan dan
mengembangkan kegiatan organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Tugas-tugas
seorang manajer adalah :
- Memimpin organisasi
- Mengatur organisasi
- Mengendalikan organisasi
- Mengembangkan organisasi
- Mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam organisasi
- Menciptakan kerja sama di dalam organisasi.
- Menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di luar organisasi
- Menumbuhkan kepercayaan
- Meningkatkan rasa tanggung jawab
- Mengawasi/mengendalikan kegiatan organisasi
- Melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan
- Menggali dan mengembangkan potensi sumber daya
Ilmu manajemen merupakan suatu
kumpulan pengetahuan yang disistemisasi, dikumpulkan dan
diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah
dalam manajemen. Metode ilmiah pada hakikatnya meliputi urutan kegiatan sebagai
berikut.
- Mengetahui adanya persoalan.
- Mendefinisikan persoalan.
- Mengumpulkan fakta, data dan informasi.
- Menyusun alternatif penyelesaian.
- Mengambil keputusan dengan memilih salah satu alternatif penyelesaian.
- Melaksanakan keputusan serta tindak lanjut.
Selain manajemen sebagai ilmu,
manajemen juga dianggap sebagai seni. Hal ini disebabkan oleh kepemiminan memerlukan kharisma,
stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan
menjalin hubungan antaramanusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh
bakat seseorang dan tidak dapat dipelajari.
Banyak
kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Beberapa orang
melihatnya (dengan definisi) sebagai konseptualisasi modern yang terlambat
(dalam hal modernitas yang terlambat). dalam istilah tersebut manajemen tidak
memiliki sejarah pra-modern, hanya merupakan pertanda. Beberapa orang lainnya,
mendeteksi aktivitas mirip-manajemen di masa pra-modern akhir. beberapa penulis
melacak perkembangan pemikiran manajemen pada pedagang-pedangan Sumeria dan
pembangun piramid Mesir. Para pemilik budak selama berabad-abad menghadapi
permasalahan eksploitasi/memotivasi budak yang bergantung namun terkadang suka
melawan (memaksa otoritas), namun banyak perusahaan pra-industri, dengan skala
mereka yang kecil, tidak merasa terdorong ungtuk menghadapi permasalahan
manajemen secara sistematis. namun, inovasi seperti penyebaran sistem angka
Hindu-Arab (abad ke-5 hingga ke15) dan kodifikasi kesekretariatan entri-ganda
(1494) menyediakan perangkat untuk penilaian, perencanaan dan kendali
manajemen. Beberapa penulis melacak pengembangan manajemen sejauh perdagangan
di Sumeria dan pembangunan piramid di Mesir. Abad 19 Bidang pelajaran manajemen
berkembang dari ekonomi dalam abad 19. Pelaku Ekonomi klasikAdam Smith dan John Stuart Mill memberikan teori teori pengaturan
sumber daya| pengaturan sumber daya, produksi dan penetapan harga. Pada saat yang hampir bersamaan,
penemu seperti Eli Whitney, James Watt, dan Matthew Boulton mengembangkan teknik produksi
seperti Penetapan standar, prosedur kontrol kualitas, akuntansi
biaya, penukaran bahan, dan perencanaan kerja. Seperti pada
pertengahan abad 19, Robert Owen, Henry Poor, dan M. Laughlin dan lain-lain memperkenalkan elemen
manusia dengan teori pelatihan, motivasi, struktur organisasi
dan kontrol pengembangan pekerja.
Pada
akhir abad 19, Pelaku ekonomi marginal Alfred Marshall dan Leon Walras dan lainnya memperkenalkan lapisan
baru yang kompleks ke teori manajemen. Pada 1900an manajer mencoba mengganti teori
mereka secara keseleruhan berdasarkan sains. Abad 20 Teori pertama tentang manajemen yang lengkap
muncul sekitar tahun 1920. Orang seperti Henry Fayol dan Alexander Church menjelaskan beberapa cabang dalam
manajemen dan hubungan satu sama lain.
Peter Drucker menulis salah satu buku paling awal
tentang manajemen terapan: “Konsep Korporasi” (Concept of the Corporation),
diterbitkan tahun 1946. Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang menugaskan penelitian tentang organisasi.
H. Dodge, Ronald Fisher, dan Thorton C Fry memperkenalkan teknik statistika ke dalam manajemen. Pada tahun 1940an, Patrick Blackett mengkombinasikan teori statistika
dengan teori mikroekonomi dan lahirlah ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal
dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah
dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi. Mendekati akhir abad 20, manajemen terdiri
dari beberapa bidang terpisah, termasuk:
- Manajemen Sumber daya manusia
- Manajemen operasi atau produksi
- Manajemen strategi
- Manajemen pemasaran
- Manajemen keuangan
- Manajemen informasi teknologi
- Top management atau manajemen tingkat atas yang sering disebut dengan executive officer atau top manager.
- Middle management atau manajemen tingkat mengenah sering disebut kepala bagian.
- Lower management atau manejemen tingkat bawah yang dikenal pula dengan istilah manajemen opeerasional (supervisor, kepala seksi, dan mandor).
Masing-masing tingkat manajemen
memiliki keterampilan yang berbeda-beda. Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Agus
Mulyono, manajer harus memiliki tiga macam keterampilan, yaitu keterampilan
konsepsional, keterampilan kemanusiaan, dan keterampilan teknis.
Manajer tingkat atas (top manager)
harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan
organisasi. Keterampilan ini sering disebut
sebagai keterampilan kosepsional (conceptional skill). Gagasan atau ide
serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana
kegiatan untuk menciptakan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide
menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses
perencanaan. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan
keterampilan untuk membuat rencana kerja.
Selain kemampuan konsepsional,
manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau
keterampilan berhubungan dengan orang laion yang disebut juga keterampilan
kemanusiaan (human skill). Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan
oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang
[persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan
kemudian mereka akan bersikap terbutka kepada atasan. Keterampilan
kberkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, mengengah maupun
bawah.
Keterampilan terakhir yang merupakan
bekal bagi seorang manajer adalah keterampilan teknis (technical skill).
Keterampilan ini apda umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang
lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan
suatu pekerjaan tertentu, misalnya memperbaiki mesin, membuat kursi, merangkai
bbunga dan keterampilan teknis yang lain.
Prinsip dapat didefinisikan sebagai
suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum yang merupakan sebuah pedoman
untuk berpikir atau bertindak. Prinsip merupakan dasar, namun tidak bersifat
mutlak karena prinsip bukanlah umum. Dalam hubungannya dengan manajemen
prinsip-prinsip bersifat fleksibel dalam arti bahwa perlu di pertimbangkan
sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-sitauasi yang berubah.
Prinsip-prinsip umum manajemen (general principle of management) teridir dari:
- Pembagian Kerja (Division of Work)
Pembagian kerja harus disesuaikan
dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh
karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right
place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas
dasar like and dislike.
Dengan adanya prinsip the right
man in the right place akan memberikan jaminan terhadap kestabilan,
kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik
merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja
akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam
penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman
akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik
tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
- Wewenang Dan Tanggung Jawab (Authority And Responsibility)
Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan
setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung
jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan
pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil
wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya.
Tanggung jawab terbesar terletak
pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi
terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah
manajer puncak. oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai
keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.
- Disiplin (Discipline)
Disiplin merupakan perasaan taat dan
patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. Disiplin ini berhubungan
erat dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka
disiplin akan hilang. Oleh karena ini, pemegang wewenang harus dapat menanamkan
disiplin terhadap disrinya sendiri sehingga mempunyai tanggung jawab terhadap
pekerajaan sesuai dengan weweanng yang ada padanya.
- Kesatuan Perintah (Unity Of Command)
Dalam melakasanakan pekerjaan,
karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan
kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus
bertanggung jawab sesui dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang
dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan
tanggung jawab serta pembagian kerja.
- Kesatuan Pengarahan (Unity Of Direction)
Dalam melaksanakan tugas-tugas dan
tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan
pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan pengarahan
tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja
terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh
karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk
pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan
tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan
(unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembaguan kerja, wewenang dan
tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.
- Mengutamakan Kepentingan Organisasi Di Atas Kepentingan Sendiri
Setiap karyawan harus mengabdikan
kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi. Hal semacam itu merupakan
suatu syarat yang sangat penting agar setiap kegiatan berjalan dengan loancar
sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik
Setian karyawan dapat mengabdikan
kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran
bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya
kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada
kepentingan orgabisasi dapat terwujud, apanila setiap karyawan merasa senang
dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.
- Penggajian Pegawai
Gaji atau upah bagi karyawan
merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja.
Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi
terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan
dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian haris dipikirkan
bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem penggajian harus
diperhitungkan agar menimbuulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga
karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more
pay for more prestige (upaya lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah
sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan
menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak
disiplin.
- Pemusatan (Centralization)
Pemusatan wewenang akan menimbulkan
pemusatan tanggung jawab dalam suatu kegiatan. Tanggung jawab terakhir terletak
ada orang yang memegang wewenang tertinggi atau manajer puncak. Pemusatan bukan
berarti adanya kekuasaan untuk menggunakan wewenang, melainkan untuk
menghindari kesimpangsiurang wewenang dan tanggung jawab. Pemusatan wewenang
ini juga tidak menghilangkan asas pelimpahan wewenang (delegation of
authority)
- Hirarki (tingkatan)
Pembagian kerja menimbulkan adanya
atasan dan bawahan. Bila pembagian kerja ini mencakup area yang cukup luas akan
menimbulkan hirarki. Hirarki diukur dari wewenang terbesar yang berada pada
manajer puncak dan seterusnya berurutan ke bawah. dengan adanya hirarki ini,
maka setiap karyawan akan mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab
dan dari siapa ia mendapat perintah.
- Ketertiban (Order)
Ketertiban dalam melaksanakan
pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa
bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan
dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai
disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat
dibutuhkan dalam mencapai tujuan.
- Keadilan Dan Kejujuran
Keadilan dan kejujuran merupakan salah satu
syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran
terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat
dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena
atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan
menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan
kejujuran pada bawahannya.
- Stabilitas Kondisi Karyawan
Dalam setiap kegiatan kestabilan
karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala pekerjaan berjalan dengan
lancar. Kestabilan karyawan terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan
adanya ketertiban dalam kegiatan.
Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila
keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan
menimbulkan goncangan dalam bekerja.
- Prakarsa (Inisiative)
Prakarsa timbul dari dalam diri
seseorang yang menggunakan daya pikir. Prakarsa menimbulkan kehendak untuk
mewujudkan suatu yang berguna bagi penyelesaian pekerjaan dengan
sebaik-beiknya. Jadi dalam prakarsa terhimpun kehendak, perasaan, pikiran,
keahlian dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, setiap prakarsa yang datang
dari karyawan harus dihargai. Prakarsa (inisiatif) mengandung arti menghargai
orang lain, karena itu hakikatnya manusia butuh penghargaan. Setiap penolakan
terhadap prakarsa karyawan merupakan salah satu langkah untuk menolak gairah
kerja. Oleh karena itu, seorang manajer yang bijak akan menerima dengan senang
hari prakarsa-prakarsa yang dilahirkan karyawannya.
- Semangat Kesatuan, Semangat Korp
Setiap karyawan harus memiliki rasa
kesatuan, yaitu rasa senasib sepenanggyungan sehingga menimbulkan semangat
kerja sama yang baik. semangat kesatuan akan lahir apabila setiap karyawan
mempunyai kesadaran bahwa setiap karyawan berarti bagi karyawan lain dan
karyawan lain sangat dibutuhkan oleh dirinya. Manajer yang memiliki
kepemimpinan akan mampu melahirkan semangat kesatuan (esprit de corp),
sedangkan manajer yang suka memaksa dengan cara-cara yang kasar akan melahirkan
friction de corp (perpecahan dalam korp) dan membawa bencana.
Fungsi manajemen adalah
elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen
yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk
mencapai tujuan, seperti:
Manajer --------> Mengelola fungsi-fungsi -------->
Tujuan
Perencanaan
Organisasi
Pelaksanaan
Pengawasan
- Praktik Manajemen
Aplikasi dari filsafat melahirkan
beeberapa tahapan penerapan manajemen sebagaimana yang diungkapkan George R.
Terry (2006:67) membagi tahapan praktik manajemen antara lain :
- Manajemen partisipasi
- Manajemen berdasarkan hasil (result management)
- Manajemen memperkaya pekerjaan (job enrichment)
- Manajemen prioritas produktifitas
- Manajemen berdasarkan kemungkinan (contingency management)
- Manajemen pemanfaatan konflik
Sedangkan Odiorne membagi
praktek manajemen dengan filsafat sebagai berikut:
- Manajemen memaksa (1920-an dan 1930-an)
- Manajemen mementingkan hubungan kemanusiaan (1940-an)
- Manajemen menggunakan tekanan (1950-an)
- Manajemen menurut keadaan (1960-an)
Berbeda dengan yang dikemukakan oleh
Bennet Silalahi (2001:10) membagai praktik manajemen menjadi 5 tahapan antara
lain manajemen teknologis
- Manajemen administratif
- Manajemen sistem kemanusiaan
- Manajemen ilmiah
- Manajemen sasaran dan hasil
- Fungsi Filsafat Manajemen
Selain penerapan filsafat manajemen,
Aplikasi ilmu manajemen dapat kita lihat beberapa Fungsi manajemen yang
diungkapkan para ahli dan banyak fungsi-fungsi manajemen yang telah
dikemukakan,
- George R. Terry dalam bukunya priciples of management adalah POAC (planning, organizing, actuating dan controlling),
- Koontz, O’donnel & Nielander : perencanaan (planning), mengorganisasi (organizing), pengadaan (staffing), mengarahkan (directing) dan mengawasi (controlling),
- Henry Fayol (planning, organizing, commanding, cordinatong dan controlling),
- Luther M. Gullick : perencanaan (planning), mengorganisasi (organizing), pengadaan tenaga kerja (staffing), mengarahkan (directing), menyeleraskan/mengkoordinasikan (coordinating),melaporkan (reporting), menyusun anggaran (budgeting)
- Bennet Silalahi : perencanaan (planning), pengambilan keputusan (decision making) dan ketatalaksanaan (implementation) serta fungsi terakhir dipecahkan kembali menurut besar kecilnya perusahaan : membina organisasi (organizational development), memimpin (leading) dan mengawasi (controlling)
- Perencanaan
Perencanaan : adalah “Proses yang
diatur supaya suatu sasaran atau tujuan masa depan yang masih samar-samar
menjadi lebih jelas” (Silalahi, 2001:43). Atau bisa diartikan sebagai “keseluruhan
proses pemikiran dan penentuan secara matang daripada hal-hal yang akan
dikerjakan dimasa yang akan dating dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditentukan” (Siagian, 1997:108)
- William H. Newman (1962:15) : “planning is deciding in advance what is to be done” (penetuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan)
- Lousi A. Allen : planning is the determination of a course of action to achieve a desired result” (perencanaan adalah penentuans erangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan)
- Koontz & O’donnel : planning is function of manager which involves the selection from among alternative of objective, policies, procedures and programs (perencaan adalah fungsi seorang menejer yang berhubungan dengan pemilihan dari berbagai alternative daripada tujuan, kebijaksanaan, prosedur dan program.)
- George R. Terry (2006) : “tindakan memilih dan menghubungkan fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai amsa yang akan dating dalam hal memvisualisikana serta merumuskan aktifitas yang diusulkan yang dianggap perlu untuk mencapai ahsil yang dinginkan”
- Sasaran : tujuan yang dinginkan yang melukiskan skope yang jelas serta memberikan arah kepada usaha-usaha seorang menejer. Unsur dari sasaran secara umum meliputi : 1). Efisiensi organisasi, produktifitas tinggi dan memaksimalkan laba. 2). Pertumbuhan organisasi, kepemimpinan industrial dan stabilitas organisasi. 3). Pertimbangan dalam kesejahteraan pegawai. 4). Kepentingan sosial dan masyarakat.
- Sementara Jenis perencanaan
Strategi planning: perencanaan utama
meliputi perencanaan startegi umum/ pola dasar tujuan perusahaan, Strategi
manajemen : perencanaan departementasi yang harus dilaporkan setiap
tahun.Perencanaan adminsitrasi : perencanaan yang diatur secara terperinci dan
teknikal yang terdiri dari kegiatan dan tugas. (silalahi, 2001). George R.
Terry : jenis perencanaan meliputi : a) Prosedur (procedure) b) Metode
(methode) c). standar (standard) d) anggaran (budget) e). program (programs) f)
faktor teknis (tecno-factor)
- Unsur-unsur perencanaan
Rudyard Kipling dalam hidupan ada
enam pelayan yang bernama : what, why, where, when, how, who
- Tindakan apa yang harus dikerjakan
- Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan
- Dimanakah tindakan itu harus dilaksanakan
- Kapankah tindakan itu dilaksanakan
- Bagaimanakh cara pelaksanaan tidnakan tersebut
- Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu
Dr. Bennet silalahi (2001) : 1).
Penyelidikan (research), 2). penentuan sumber langka (scarce resources),
3). penentuan lingkungan, 4). penentuan kebijakan perusahaan, 5) penetuan
wahana (organisasi). Manullang (1977) : 1) tujuan perusahaan 2) politik 3).
Prosedur 4). Budget 5). Program. Louis Allen : 1) meramalkan (forecasting)
2). Menetapkan tujuan (establishing objectives), 3) mengacarakan (programming)
4). Meyusun tata waktu (scheduling) 5) menyusun anggaran (budgeting)
6). Memperkembangkan prosedur ( developing procedures) 7) menetapkan dan
menafsirkan kebijaksanaan (establishing & interpreting policy)
- Syarat-syarat perencanaan :
- Realistis praktis dan terarah dimana idealisme takluk kepada rasio dan rasio pada pengalaman
- Disusun oleh ahli dalam perencanaan yang sangat faham tujuan utama perusahaan
- Dapat dilaksanakan oleh manajemen tingkat atas, menengah dan bawah secara serempak
Ada juga berpendapat perencanaan :
- harus mempermudah tercapainya tujuan.
- harus dibuat orang yang memahami tujuan organisasi dan orang yang mendalami teknik perencanaan
- harus disertai rincian yang teliti
- harus sesaui dengan pemikiran pelaksanaan
- harus sederhana, luwes, pragmatis
- didalamnya ada tempat pengambilan resiko
- harus merupakan forecasting
- Proses perencanaan
- Seleksi sasaran
- Penilaian dampak lingkungan
- Mengadakan ramalan tentang perubahan
- Evaluasi kekuatan internal perushaan
- Mempertimbangkan berbagai alternatif tindakan bersama resiko dan imbalannya
- Pilihan alternatif terbaik
- Penentuan program spesifik, rencana dan prosedur pelaksanaan
- Evaluasi bersama hasil dan akibat perencanaan dalam rangka mengambil tindkaan perbaikan dan mengadakan perubahan sesaui dengan apa yang
- Pengorganisasi Dalam Pendidikan
Dalam arti badan, organisasi adalah sekelompok
orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu, dalam arti bagan,
organisasi adalah gambaran skematis tentang hubungan kerjasama antara
orang-orang yang terdapat dalam suatu badan untuk mencapai suatu tujuan dan
dalam arti dinamis, organisasi adalah suatu proses penetapan dan pembaian
pekerjaan, pembatasan tugas dan tanggungjawab serta penetapan hbungan antara
unsur-unsur organisasi sehingga memungkinkan orang bekerjasama secara efektif
untuk mencapai tujuan (M. Fuad, 2001:102)
Istilah organisasi yang
didefinisikan secara statis diartikan sebagai suatu gambaran secara skematis
tentang bagian-bagian tugas dan tanggungjawab dan hbungan bagian yang terdapat
dalam sesautu badan atau suatu lembaga sedangkan secara dinamis diartikan
sebagai suatu proses penetapan dan pembagian pekerjaan yang akan dialkukan,
pembatasan tugas-tugas atau tangungjawab serta wewenang dan penetapan hbungan
antara unsure organisasi sehingga memungkinkan orang-orang dapat bekerja
bersama-sama sefektif mungkin untuk pencapaian tujuan. (Manulang, 1971:49)
- Organisasi sebagai wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama untuk merealisasikan tujuannya (B.S. Wibowo, 202:315)
- Organisasi diartikan sebagai a consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable boundary that functions on a relatively continuous basis to achive a common goal or set of goals (stphen P. Robbins, 1990:4)
- Organization are relatively permanent social entities characterized by goal-oriented behavior, specialization and structure (Warren B. brown, 1980:2)
- Pengorganisasian diartikan sebagai suatu tindakan mengusahakan hubungan kelakukan yang efektif antara orang-orang, hingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu.(George R.Terry, 2006:233)
- Tujuan mengorganisasi :
- Mempermudah melaksanakan tugas.
- Mempermudah pimpinan untuk mengawasi bawahan
- Agar tertuju pada tujuan tertentu
- Untuk dapat menentukan orang yang dibutuhkan untuk menjabat tugas-tugas yang sudah dibagi-bagi
- Prinsip Organisasi
- Principle of objective; Tiap organisasi harus mempunyai tujuan yang tertentu dan jelas
- The principle of functional organization; Suatu organisasi harus didirikan diatas fungsi-fungsi utama yang diperlukan untuk mencapai tujuan efisien
- The principle of balance; Berbagai bagian dari organisasi harus mempunyai kebutuhan yang berimbang sesuai dengan fungsi bagian tersebut dalam mencapai tujuan organisasi
- The principle of specialization; Organisasi harus dibagi sehingga aktiftas seseorang anggota organisasi sedapat mungkin dibatasi pada pelaksanaan satu fungsi saja.
- The principle of continuity; Organisasi harus mengambarkan jenjang kenaikan tingkat dalam strukturnya agar suplai kemampuan manajerial yang sangat diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidupnya dapat terlaksana secara berkeinambungan
- The principle of flexibility; Organisasi dan rencana kerjanya harus lentur untuk menghadapi keadaan usaha yang terus menerus berubaha, persaingan, pengaruh luas, perluasan.
- The principle of simplicity; Rencana organisasi harus sederhana sedemikian rupa agar dapat mencpai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien
- The principle of unity of command; Setiap organisasi memerlukan seorang pemimpin tunggal dan setiap bawahan harus mempunyai haya seorang atasan
- The principle of span of control; Kemapuan seseorang untuk mengendalikan bawahan dengan efektif dan efisien, karena itu perlu ada jumlah bawahan seseorang
- The principle supervisory channels; Suatu organisasi harus diperlengkapi dengan garis kepengawsan secara tegas dari pucuk pimpinan sampai kepada para pelaksana
- The principle of communication; Oprganisai harus memungkinkan hubungan yang baik untuk pelaksnaan tiap tugas
- The principle of coordination
- Organisasi harus memungkinkan koordinasi yang baik dari tiap fungsi agar dicapai efisiensi uyang maksimal
- The principle of effectiveness; Organisasi harus memungkinkan efisiensi yang maksimum disertai dengan minimum usaha dan pengeluaran-pengeluaran lainnya dalam mencapai tujuannya
DAFTAR PUSTAKA
Renè Descartes, Meditations on First
Philosophy 2nd Edition, terj. Laurence J. Lafleur (New York: Bobbs-Merrill,
1960
Hasan Hanafi, Pengantar Filsafat
Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1982
Kattssof, Pengantar Filsafat, Bulan
Bintang, Jakarta 1
Gilbert Ryle, The Concept of Mind
(New York: Barnes & Noble, 1949), Bab I, “Descartes’ Myth”, pp. 13-25.
Immanuel Kant, Critique of Pure
Reason, “Preface” (kedua edisi) (CPR 7-37)
Immanuel Kant, Prolegomena to Any
Future Metaphysics, terj. Lewis White Beck (New York: The Bobbs-Merrill
Company, 1950).
Stephen Palmquist, Kant’s System of
Perspectives: An architectonic interpretation of the Critical philosophy
(Lanham: University Press of America, 1993), Bab IV-VI, pp. 107-193.
Will Durant, The Story of
Philosophy: The lives and opinions of the greater philosophers 3rd Edition (New
York: Simon and Schuster, 1982
John Passmore, A Hundred Years of
Philosophy 2nd Edition (Harmondsworth: Penguin, 1966
Michael Jubien, Contemporary
Metaphysics: An introduction (Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 1997).
Eugene McKenna dan Nic Beec, The
Essence of : Manajemen Sumber Daya Manusia,Terj. Toto Budi Santoso,
(Yogjakarta : Penerbit Andi, 2002)
Taliziduhu Ndraha, Budaya
organisasi, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003)
Vijay Sathe, Culture and Related
corporate Realities, (Homewood : Richard D.
Edgar H. Schein, Organizational
Culture and Leadershif, (San Fransisco
Stephen P. Robbins,Organizational
Theory: Structure Design and Aplication 12
Waren B.Brown dan Denis J. Moberg, Organization
Theory and Mangement: A Macro Approach, (New York : John Wiley &
Sons,1980)
Amitai Etzioni, Complex
Organization : A Sociological Reader, (New York :
Umar Nimran, Kebijakan Perusahaan,
(Jakarta : Karunika UT, 1996).
Prof. Dr. Bennet Silalahi, Corporate
Culture and Performance Appraisal, (Jakarta : Al-Hambra, 200
Perkembangan Ilmu Administrasi dan
Manajemen, Dalam dunia pendidikan di indonesia, bidang studi administrasi
pendidikan boleh dikatakan masih baru. Di negara-negara yang sudah maju, mulai
berkembang dengan pesat sejak pertengahan pertama abad ke-20, terutama
sejak berakhirnya dunia kedua, khususnya di negara kita indonesia, administrasi
pendidikan baru di pekenalkan melalui beberapa ikip sejak tahun 1960-an dan
baru masuk sebagai mata pelajaran dan mata ujian di sga/spg sejak tahun
ajaran 1965/1966.
Oleh karena itu, tidak mengherankan
jika para pendidik sendiri bayak yang belum dapat memahami berapa perlu dan
pentingnya administrasi pendidikan itu dalam penyelengaraan dan pengembangan
pendidikan itu sendiri sebagai ilmu terus mengalami perkembangan sesuai dengan
perkembangan pendidikan di negara masing-masing.
Sebagai ilmu pengetahuan administrasi merupakan suatu fenomena masyarakat yang baru, karena baru timbul sebagai suatu cabang dari pada ilmu-ilmu sosial, termasuk perkembangannya di indonesia. Sekalipun administrasi sebagai ilmu pengetahuan yang baru berkembang di indonesia, dengan membawa perinsip-perinsip yang universal, akan tetapi dalam perkteknya harus diseduaikan dengan situasi kondisi indonesia dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempunyai pengaruh (impack) terhadap perkembangan ilmu administrasi sebagai suatu disiplin ilmiah yang berdiri sendiri.
Pengembangan di bidang administrasi
dalam rangka peningkatan kemampuan administrasi (administratif capability),
bukan saja diperuntukkan dalam lingkungan pemerintah saja, tetapi juga sebagai
organisasi-organisasi swasta, terutama dalam rangka pelaksanaan pembangunan
nasional.
Setiap organisasi memiliki
aktivitas-aktivitas pekerjaan tertentu dalam rangka pencapaian tujuan
organisasi. Salah satu tugas tersebut dalam manajemen. Dalam organisasi bisnis
dikenal antaralain manajemen pengangkut dan pengiriman, manajemen pembelian
gudang, manajemen perencanaan, manajemen operasi, dan sebagainya. Dalam
organisasi pendidikan macam-macam manajemen seperti itu tidak dikenal melainkan
hanya ada sejenis manajemen yang bertingkat ialah manajemen tertinggi sampai
dengan manajemen terdepan.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Administrasi
sebagai ilmu (science) dan seni (art)
Sebagai ilmu pengetahuan admiinistrasi merupakan suatu fenomena masyarakat yang baru, karena baru timbul sebagai sebagai suatu cabang dari pada ilmu-ilmu sosial termasuk perkembangan di indonesia. Sekalipun ilmu administrasi baru berkembang di indonesia, dengan membawa prinsip-perinsip yang universal, akan tetapi dalam prakteknya harus di sesuaikan dengan kondisi indonesia dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempunyai pengaruh (impact) terhadaf perkembangan ilmu administrasi sebagai suatu disiplin ilmiah yang berdiri sendiri.
Pengembangan di bidang administrasi dalam rangka penigkatan kemampuan administratif (administrativ capability), bukan saja di peruntukan dalam lingkungan pemerintah saja, tetapi juga bagi organisasi-organisasi swasta, terutama dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional. Administrasi sebagai ilmu pengetahuan termasuk kelompok ‘’appilied sciences’’ karena kemamfaatanya hanya ada apabila perinsip-perinsip, rumus-rumus dan dalil=dalilnya di terapkan mutu berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara . Sedangkan administrasi dalam suatu peraktek atau sebagai suatu seni pada zaman modern sekarang ini merupakan peroses kegiatan yang perlu di kembangkan secara terus menerus, agar administrasi sebagai suatu sarana untuk mencapai suatu tujuan benar-benar dapat memegang peranan yang dapat di harapkan.
Administrasi sebagai seni pada hakekatnya timbul bersama-sama dengan timbulnya peradaban manusia. Jelasnya semenjak manusia telah berbudaya, yaitu dengan mengembangkan ciptanya/akal pikirannya, rasanya/seninya, karsanya/kehendaknya dan adanya kerja sama antara 2 orang atau lebih telah merupakan unsur-unsur administrasi dalam kehidupan bersama/barmasyarakat. Oleh karena itu administrasi sebagai suatu seni sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru, karena dengan adanya 2 manusia yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu, disana sudah terdapat administrasi, yaitu administrasi dalam praktek. Herbert A.Simon, misalnya, pernah mengatakan bahwa apabila ada 2 orang yang bekerjasama untuk menggulingkan sebuah batu yang tidak dapat digulingkan hanya oleh satu orang di antara mereka, di sana telah terdapat administrasi.
B.
Administrasi sebagai sesuatu disiplin ilmiah.
Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa sejak periode prasejarah dan periode sejarah, manusia telah menjalankan sebagian prinsip-prinsip administrasi yang sekarang kita kenal, dan telah menerapkan dalam bidang pemerintahan, perdagangan, perhubungan, pengangkutan dan sebagainya, misalnya terlihat pada zaman Pemerintahan Kerajaan Mataram I, Majapahit dan Sriwijaya (di Indonesia), zaman Pemerintahan Kerajaan Mesir kuno, zaman Perintahan Kerajaan Tiongkok kuno dan sebagainya.
Bukti-bukti peningalan pada zaman tersebut berupa hasil kebudayaan yang sekarang masih dikagumi orang, yaitu candi borobudur, candi kalasan (indonesia). Piramid dari mesir dan pagar tembok raksasa dari tiongkok dll.
Berakhirnya perkembangan
administrasi sebagai seni di tandai oleh lahirnya “gerakan manajemen
ilmiah’’yang di pelopori oleh frederick w.taylor dari amerika serikat dan henry
fayol dari perancis, pada akhir abad XIX dan di sini terdapat dua hal yang
perlu di catat,yaitu:
- Berakhirnya setatus administrasi sebagai seni semata-mata dan lahirnya administrasi dan manajemen sebagai suatu ilmu pengetahuan (disiplin baru) .
- Berahirnya periode prasejarah dan periode sejarah manusia dalam perkembangan administrasi dan manajemen dan tibanya periode “zaman modern” yang dimulai sejak berahirnya abad yang lalu dan terus berkembang sampai sekarang dalam abad XX ini.
Perlu di tambahkan di sini bahwa setiap perkembangan ilmu administrasi yang telah dikemukakan di atas, maka pada waktu yang bersamaan timbul perkembangan-perkembangan mengenai substansi-substansi yang mengenai obyek penelitian dalam ilmu administrasi, misalnya : ilmu manajemen, ilmu aorganisasi, ilmu administrasi negara/ niaga, ilmu administrasi keuangan, kepegawaian, material dan lain-lain
Ilmu pengetahuan timbul dan
berkembang oleh karna adanya kebutuhan yang nyata yang dirasakan oleh
masyarakat terhadap sesuatu ilmu tertentu. Bagi negara-negara yang pada waktu
sekarang ini digolongkan kepada ”negara yang sedang berkembang” (developing
countries) dirasakan bahwa teori-teori dan prinsip-prinsip dari pada ilmu
administrasi negara yang tradisional yang terutama dikembangkan di dunia barat,
khususnya amerika srerikat, sudah tidak memadai terhadap kebutuhan bagi
negara-negara yang sedang giat melakukan pembangunan. Oleh karena itu para ahli
mulai mengalihkan pikiran, perhatiannya serta waktunya terhadap satu cabang
ilmu administrasi yang relevan dengan negara-negara yang sedang berkembang,
yaitu ilmu administrasi pembangunan.
C. Pelopor dan
bapak ilmu administrasi
Kenyataan menunjukkan bahwa
sebenarnya ilmu administrasi dan manajemen baru di kembangkan pada akhir abad
ke-19, yaitu oleh henry fayol dari perancis dan frederick w.taylor dari amerika
serikat. Oleh karena kedua orang tersebut telah mengembangkan ilmu
administrasi/manajemen yang di angap moderen pada waktu itu, maka mereka di
angap sebagai pelopor atau bapak ilmu administrasi/manajemen.
Adapun perbedaan dari pada
analisanya ialah kalau H.fayol pendekatanya mendasarkan diri atas
administrative manajement (manajemen administratif), sedangkan f.w.taylor
karena pengalamannya mendasarkan analisanya atas operative manajemen (manajemen
operatif) yang dimaksud dengan administrative manajement ialah suatu pendekatan
dari pimpinan atas sampai ketingkat pimpinan yang terbawah sekalipun, termasuk
para pekerjanya. Sedangkan yang di maksud dengan operative manajement ialah
pendekatan dari bawah ketingkat yang lebih atas. Titik beratnya ialah efisiensi
dan produktivitas para pelaksananya yang terdapat di tingkat bawah.
D. Henry fayol
(1841-1925)
Henry fayol adalah seorang insinyur
bangsa perancis yang bekerja pada industri pertambangan. Berdasarkan analisanya
ia menarik kesimpulan bahwa perinsip-prinsip pokok dari poada administarasi
dapat diterapkan/dijalankan pada semua bentuk dari pada organisasi.
Menurut fayol administrasi merupakan bagian kegiatan dalam badan usaha. Badan usaha adalah yang melaksanakan ke arah suatu sasaran atau tujuan (obyektif) dengan usaha mendapatkan keuntungan yang oftimum dari semua sumber-sumber yang tersedia. Untuk mulaksanakan maksud tersebut diperlukan pekerjaan yang lancar dengan menerapkan ke-6 (enam) fungsi utama, dimana administrasi hanyalah salah satu fungsi kegiatan.
Adapun 6 (enam)fungsi/kegiatan itu
ialah:
- Kegiatan teknis (operations techniques), yaitu produksi, fabrikasi, pengolahan.
- Kegiatan kommersial (operation commerciales), yaitu jual beli, tukar menukar.
- Kegiatan finansial (operation financieres), yaitu mencari dan menggunakan uang/kapital.
- Kegiatan keamanan (operetion de securite), yaitu perlindungan harta kekayaan dan orang.
- Kegiatan akunting (operetion de comptabilite), yaitu imventaris, neraca, nilai harga, statistik.
- Administrasi (operotion administratives), yaitu perencanaan, pengorganisasian, memimpin, penkoordinasian dan pengawasan.
Henry fayol mendefinisikan
administrasi dalam 5 unsur (elemen)yaitu:
- Untuk meramalkan (forecast) dan untuk merencanakan (planning/prevonyance)
- Untuk mengorganisasi (organizing/organisation).
- Untuk memimpin (commanding/comandement)
- Untuk mengkoordinasi (coordinating/coordinatin).
- Untuk mengawasi (controlling/controle)
E. Frederick W. Taylor
(1856-1916)
Taylor sebagai seorang Sarjana Teknik yang bekerja pada suatu perusahaan baja di philadelpia mulai mengadakan penyelidikan-penyelidikan dalam rangka usahanya menungkatkan efisiensi perusahaan dan meningkatkan produktivitas para pekerja. Taylor memperhatikan bahwa efisiensi perusahaan tidak terlalu tinggi dan produktivitas buruh rendah karena terlalu banyak waktu dan gerak-gerik kaum buruh yang tidak produktif.
Pada tahun 1898 Taylor diminta oleh perusahaan pabrik baja bethlemen untuk memajukan perusahaan tersebut yang mengalami kemunduran. Taylor mempelajari pekerja-pekerja yang mengangkat besi batang yang harus di bawa dan diletakkan pada gerbong kereta api tiap besi batangan itu beratnya 92 pon (42 kg) setiap pekerja dapat mengangkut 12 ton (125 kwintal) sehari. Berdasarkan atas percobaan dan analisanya, ya sampai pada kesimpulan bahwa:
- Tidak semua pekerja melakukan pekerjaannya sesuai dengan bakatnya, maka perlu diadakan pemilihan pekerja yang baik.
- Setiap pekerja harus melakukan pekerjaannya sesuai dengan kemampuannya, maka perlu diadakan latihan daripada pekerja agar dapat diperbaiki metode pekerjaannya
- Untuk menjaga produktivitas kerja yang baik maka perlu diadakan pembagian waktu bekerja dan waktu beristirahat.
- Produktivitas kerja akan terjamin, apabila diadakan sistem standar dari pada hasil kerja dan sistem insentif
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Pengembangan di bidang administrasi dalam rangka peningkatan kemampuan administratif (administrative capability), bukansaja di peruntukkan dalam lingkungan pemerintahan saja, tetapi juga bagi organisasi-organisasi swasta, terutama dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional.
Administrasi sebagai ilmu pengetahuan termasuk kelompok “appiliend sciences’’, karena kemanfaatannya hanya ada apabila prinsip-prinsip, rumus-rumus dan dalil-dalilnya diterapkan untuk meningkatkan mutu berbagai kehidipan bangsa dan negara.
Untuk lebih lengkap makalahnya
silakan klik dibawah ini!!!
