BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia dan
pendidikan tidak dapat dipisahkan, sebab pendidikan merupakan kunci dari masa
depan manusia yang dibekali akal dan pikiran. Pendidikan merupakan peranan
penting untuk mejamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Karena
pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas
sumber daya manusia.
Pendidikan adalah
usaha sadar dan bertujuan untuk mangembangkan kualitas manusia sebagai suatu
kegiatan yang sadar akan tujuan.[1]
Aktisfitas dalam mendidik dan merupakan suatu pekerjaan tersebut, maka dalam
pelaksanaannya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan semuanya
berkaitan dalam suatu sistem pendidikan
yang integral
Menurut undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang
system pendidikan nasional bab 1 pasal 1.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan
prases pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan , pengendalian diri, kecerdasan, ahlak mulia serta keteranpilan yang diperlukan
baik dirinya , masyarakat, bangsa dan Negaranya.[2]
Profesionalisme seorang guru mutlak dilakukan sebagai bekal
dalam mengakses perubahan baik untuk
metode pembelajaran ataupua kemajuan teknologi yang kesemuanya ditunjukkan
untuk kepentingan proses belajar mengajar.[3]Sebab
jika ditinjau dari undang-undang sebagaimana tersebut di atas, tugas guru bukan
sekedar materi pelajaran kepada siswa, tetapi lebih
kepada bagaimana menciptakan mereka sebagai sumber daya manusia terampil dan
siap mengakses kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta liberaditas yang
terjedi dimasa nanti.
Dalam kaitan proses belajar mengajar hendaknya guru dapat
mengarahkan dan membimbing siswa agar lebih aktif kegiatan belajar mengajar
sehingga tercipta suatu intrea aksi yang baik antara guru dan siswa. Hal ini
senada seperti yang ditulis Madri. M dan Rosmawati bahwa terjadinya proses
pembelajaran itu ditandai dengan dua hal, yaitu : (1) Siswa menunjukkan
keaktifan, seperti tampak dalam jumlah curahan waktunya untuk melaksanakan
tugas ajar, (2) Terjadi perubahan
perilaku yang selaras dengan tujuan pengajaran yang diharapkan.[4]
Dan untuk mewujudkan hal tersebut perlu
diadakan suasana kelas yang mendukung proses belajar mengajar yang dapat
membantu efektifitas proses belajar mengajar yaitu:
Memenggil
setiap murid dengan namanya,lalu menunjukkan sikap sopan kepada murid, memastikan
bahwa anda tidak menunjukkan sikap pilih kasih terhadap murid tertentu,
merencanakan apa yang anda lakukan dalam setiap mata pelajaran, mengungkapkan
kepada setiap murid-murid,tentang apa
yang anda ingin capai dalam pelajaran ini, dengan cara tertentu melibatkan
setiap murid selama pelajaran, berikan kesempatan pada murid untuk saling
berbicara, mengutarakan maksud anda melaksanakan hal yang talah anda katakan
kepada murid, dan bersikaplah konsistem dalam menghadapi murid-murid.[5]
Sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai
sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang RI nonor 20 tahun 2003
tentang system pendidikan Nasional bahwa: tujuan pendidikan nasional adalah
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar meajadi manusia yang beriman dan
taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.[6]
Untuk menarik minat siswa dalam memahami
konsep-konsep yang tercakup dalam kurikulum khususnya semua mata pelajaran yang
ada di sekolah dasar secara keseluruhan tidak mudah. Menurut Naasrum dan forum
pendidikan mengemukakan bahwa guru dituntut mampu memiliki dan menggunakan
media m3dia pengajaran sesuai dengan materi yang akan disajikan, dituntut mampu
menggunakan metode mengajar secara stimulant untuk menghidupkan suasana
pengajaran yang baik.[7]
Tugas
guru adalah mendiagnosis kebutuhan belajar, merencanakan pelajaran, memberikan
potensi, memberikan pertanyaan dan mengevaluasi pengajaran. Manajemen yang
efektif merupakan prasyarat yang kritis bagi kegiatan intruksional yang efektif
agar seorang guru mengelola kelas hendaklah ia mampu mengantisipasitingkah laku
siswa yang salah dan mencegahtingkah laku demikian agar tidak terjadi.[8]
Langkah yang dapat
dilakukan agar dapat tercapai tujuan pembelajaran adalah melaksanakan
pengembangan dalam pengajaran dan pembelajaran. Salah satunya dengan
menggunakan alat peraga atau prototype subyek/obyek materi sebagai alat bantu
siswa dalam memahami konsep-konsep materi, serta pembenahan system pantilasi
kelas agar tercipta lingkungan kelas yang nyaman, praktek, pembentukan kelompok
belajar dan diharapkan pengembangan
pembelajaran serta pengajaran tersebut siswa dapat lebih memahami materi
pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Dengan melihat
konteks tersebut manajemen kelas dapat dipandang suatu usaha yang sangat
penting dan harus mendapat prioritas seorang guru dalam berbagai macam
aktivitas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan siswa. Upaya yang dilakukan
adalah dengan pemberian kepada siswa untuk melaksanakan kegiatan kreatif dan
terarah.
Mata pelajaran
disekolah dasar merupakan wahana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan
sikap dan nilai serta tanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat bangsa dan
Negara. Materi-materi yang disajikan disekolah dasar merupakan dasar untuk
memperoleh materi kejenjang berikutnya.
Untuk
meningkatkanhasil belajar di sekolah dasar, dapat diwujudkan dengan pengelolaan
kelas atau manajemen kelas yang beriorentasi pada siswa, artinya guru harus memberi pengalaman secara langsung serta
merangsang proses belajar mengajar dikelas yang memberi banyak kesempatan
kepada siswa, untuk mengembangkan pengetahuan dan menerapkan hal-hal
dipelajari.
Oleh karena itu penulis ingin menuangkan dalam bentuk karya
ilmia yang berjudul “ Pengaruh Manajemen
Kelas Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan Di Sdi Hombes Armed “
B. Rumusan Masalah
Dari uraian
yang telah dipaparkan diatas ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasi diantaranya
:
1.
Adanya manajemen kelas
lebih baik disbanding tanpa adanya manajemen kelas
2.
Manajemen kelas yang
digunakan oleh guru mempengaruhi hasil belajar yang mengarah kepeda peningkatan
mutu pendidikan.
3.
Cara memenej kelas pada
siswa dan dapat menciptakan iklim kelas yang baik.
Dari beberapa
masalah yang dapat diidentifikasi maka manajemen kelas pada siswa mampu
ditempatkan sebagai pusat dari proses bslajar mengajar yang mengarah kepada
mutu pendidikan,dan masalah penalitian dapat darumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh manajemen kelas
yang digunakan guru terhadap mutu pendidikan?
C. Pengertian Judul
Dalam Proses pembelajaran di kelaas yang
sangat urugen untuk dilakukan seorang guru adalah mengupayakan, menciptakan
kondisi belajar mengajar yang baik. Maka dari itu penting sekali bagi seorang
guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik dan
untuk mencapai tingkat efektifitas yang optimal dalam kegiatan intruksionl,
kemampuan memenej kelas merupakan salahsatu factor yang juga harus dikuasai
oleh seorang guru kemampuan tersebut yang kemudian disebut kemampuan manajemen
kelas. Sedangkan mutu mengandung makna derajat (tingkat) Keunggulan, pengertian
mutu dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan.[9]
Jadi pengertian
pengaruh manajemen kelas terhadap mutu pendidikan adalah usaha guru untuk
mengelolah, menciptakan, memelihara dan mengembangkan iklim belajar yang
kondusif demi tercapainya peningkatan dan tujuan akademik
D. Tujuan Dan Kegunaan
a. ,Tujuan
- Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh, manajemen kelas
terhadap peningkatan mutu pendidikan.
- Sebagai umpan balik
terhadap kemampuan memenej kelas yang dimiliki seorang guru supaya supaya lebih
ditingkatkan agar proses pembelajaran lebih beriorentasi pada siswa.
b. Kegunaan
- Sebagai
bekal pengetahuan mengenai manajemen kelas dalam meningkatkan mutu dan dapat
diterapkan dengan baik dalam proses
belajar mengajar
- Sebagai bahan
perbandingan antara kelas yang menggunakan manajemen dan yang tidak menggunakan
tindakan manajemen kelas
E. Garis Besar Isi
Skripsi
Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan men.gembangkan kualitas manusia dimana dijelaskan
dalam Undang-undang RI No 20 th 2003 tentang system pendidikan nasional yang
bertujuan untuk menciptakan manusia seutuhnya. Demi terlaksananya tujuan
pendidikan nasional maka profesionalisme seorang guru sangat diperlukan dalam
mengakses perubahan yang kesemuanya ditujukan untuk kegiatan proses belajar
mengajar.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa
dalm melaksanakan tugas sebagai pengajar, guru dihadapkan pada dua tugas utama
yaitu menyampaikan materi pembelajaran dan manajemen kelas. Dalam menyampaikan
materi pembelajaran guru dihadapkan pada masalah masalah pembelajaran dan dalam
manajemen kelas guru dihadapkan pada masalah masalah pengelolaan kelas.[10]
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Manajemen Kelas
Sebelum
memberikan pengartian tentang manajemen kelas berikut ini adalah pengertian tentang
kelas yang dikemukakan oleh purnomo, bahwa kelas adalah ruangan belajar
(lingkungan fisik) dan rombongan belajar (lingkungan emodional).[11]
Lingkungan
fisik meliputi : (1) ruangan, (2) keindahan kelas, (3)pengaturan tempat duduk,
(4) pengaturan sarana dan alat pengajaran, (5) pasilitas dan pengaturan cahaya.
Sedangkan lingkungan sosia-emosional meliputi : (1) tipe kepemimpinan guru, (2)
sikap guru,(3)suara guru, (4) Dan pembinaan hubungan yang baik.[12]
Istilah manajemen kelas (class roommanagement) yang berarti
manajemen kelas atau pengelolaan kelas, yang dapat didepenisikan bermacam-macam
tergantung sudut pandang yang adi pakai.
Weber (1977) mengemukakan tiga pendapat tentang pengertian
manajemen kelas. Pertama, manajemen kelas adalah serangkaian kagiatan yang
dilakukan guru untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan
menghilangkan tingkahlaku yang tidak diharapkan.Kedua, manajemen kelas adalah
serangkaian kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik
dan iklim sosio-emosional kelas yang positif. Ketiga, manajemen kelas adalah
serangkaian kegiatan guru untuk menciptakan dan memelihara organisasi kelas
yang efektif. Sedangkan menurut winzer
(1995) manajemen kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan
lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan pada
siswa untuk mencapai tujuan akademik.[13]
Sedangkan
pengelolaan kelas itu sendiri yang dikemukakan oleh Usman, bahwa “Pengelolaan
kelas adalah keterampilan guru untukmenciptakan dam memelihara kondisi belajar
yang optimal dan bisa mengontrol kembali
jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.[14]
Sedangkan
menurut Wina sanjaya bahwa manajamen kelas adalah keterampilan guru dalam
menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang optimal dan mengembalikannya mana
kala terjadi kondisi kelas yang dapat mengganggu pembelajaran.[15]
1. Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu pengelolaan dan kelas.
Pengelolaan (manajemen) dalam pengertian umum menurut Suharsini Arikunto adalah
pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas
menurut Oemar
Hamalik adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar
bersama yang mendapat pengajaran dari guru.[16]
Secara etimologis, pengelolaan kelas
ialah usaha guru untuk menciptakan, memelihara dan mengembangkan iklim belajar
yang kondusif (Udin S. Winataputra).[17]
Pengertian ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Winzer yang
menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam
menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademik dan social.
2. Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan pengelolaan kelas pada
hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan
pengelolaan kelas adalah menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan
belajar siswa dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam kelas.
Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja,
tercapainya suasana social yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Suharsini Arikkunto berpendapat bahwa tujuan
pengelolaan kelas adalah agar setiap anak didik di kelas dapat belajar dan
bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif
dan efisien.
3. Penataan Lingkungan Kelas
Guru adalah seorang pendidik,
pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar menarik,
aman, nyaman dan kondusif di kelas, keberadaannya ditengah-tengah siswa dapat
mencairkan suasana kebekuan, kekakuan dan kejenuhan belajar yang terasa berat
diterima oleh para siswa. Iklim yang tidak kondusif akan berdampak negative
terhadap proses pembelajaran dan sulitnya tercapai tujuan pembelajaran, siswa
akan merasa gelisah, resah, bosan dan jenuh. Sebaliknya iklim belajar yang
kondusif dan menarik dapat dengan mudah tercapainya tujuan pembelajaran, dan
proses pembelajaran yang dilakukan menyenangkan bagi peserta didik.
Lingkungan belajar yang aman, nyaman
dan tertib, optimalisme merupakan harapan yang tinggi bagi seluruh warga
sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta
didik merupakan iklim yang dapat membangkitkan gairah, semangat dan napsu
belajar.
Dalam implementasi kurikulum 2004, para
ahli menyarankan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan akademik,
baik secara fisik maupun nonfisik lingkungan fisik merupakan kondisi belajar
yang harus didukung oleh berbagai sarana, laboratorium dan media lain.
Lingkungan nonfisik memiliki peran yang besar juga dalam mempengaruhi kondisi
belajar, terutama pengaturan lingkungan belajar, penampilan, sikap guru, hubungan
harmonis antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan guru, dan sesame
peserta didik itu sendiri,serta organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat,
sesuai dengan kemampuan dan perkembangan peserta didik.[18]
a. Penataan Lingkungan Fisik
Kelas
Lingkungan fisik kelas yang baik adalah
ruangan kelas yang menarik, efektif dan mendukung siswa dan guru dalam proses
pembelajaran. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat bagi
siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Penataan tempat duduk yang mengganggu
lalu lintas selama kegiatan pembelajaran, dan penempatan barang-barang yang
tidak sesuai dengan fungsinya, dapat menghambat berlangsungnya proses
pembelajaran. Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik, guru harus
menata tempat duduk dan barang-barang yang ada di ruangan kelas sehingga dapat
mendukung dan memperlancar proses pembelajaran.
Tujuan utama penataan lingkungan fisik
kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku
siswa yang tidak yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot,
dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas, sehingga memungkinkan
terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa, dalam
kegiatan pembelajaran. Selain itu penataan kelas harus memungkinkan guru dapat
memantau semua tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah
disiplin. Melalui penataan kelas, diharapkan siswa dapat memusatkan
perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif.
Menurut Louisell, ketika menata lingkungan
fisik kelas, guru harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Visibility (keleluasan pandangan), artinya
penempatan atau penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu
pandangan siswa sehingga mereka secara leluasa dapat memandang guru, benda,
atau kegiatan yang sedang berlangsung.
2. Accebility (mudah dicapai), artinya barang-barnag
atau alat-alat yang biasa digunakan oleh siswa dalam proses pembelajaran mudah
dijangkau.
3. Fleksibilitas (keluwesan), artinya barang-barang
yang ada di dalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan
sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswa dan
guru.
4. Kenyamanan, baik bagi siswa maupun bagi guru
sendiri.
5. Keindahan, berkenaan dengan usaha guru menata
ruangan kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran.
Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan, berpengaruh positif terhadap sikap
dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
b. Penataan Lingkungan
Psiko-Sosial Kelas
Iklim psikososial kelas berkenaan
dengan hubungan social pribadi antara guru dan siswa, serta antar siswa itu
sendiri. Hubungan yang haronis antara guru dan siswa, serta antar siswa akan
dapat menciptakan iklim psiko social kelas yang sehat, dan efektif bagi
berlangsungnya proses pembelajaran.
Berkenaan dengan pengelolaan iklim
psiko social kelas, Bandura menyatakan bahwa keberhasilan guru dalam mengelola iklim
psiko social kelas dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri. Berikut
beberapa karakteristik yang harus dimiliki guru demi terciptanya iklim psiko
social kelas yang efektif bagi kelangsungan proses pembelajaran.
a. Disukai oleh siswanya
b. Memiliki persepsi yang realistik tentang dirinya dan
siswanya.
c. Akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru-siswa
d. Bersikap positif terhadap pertanyaan/respon siswa
e. Sabar, teguh dan tegas
Karena begitu pentingnya pengelolaan
kelas, baik yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas maupun psiko sosial
kelas, maka diharapkan seorang guru memahami hal ini semua.
Dari beberapa
pengertian manajemen kelas diatas disimpulkan pengertian manajemen kelas adalah
segala usaha yang dilakukan guru untuk mengelolah, menciptakan suasana belajar
mengajar yang lebih efektif, kondusif. dan menyenangkan sehingga siswa
termotifasi untuk belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan.
B. Pengertian Mutu Pendidikan
Lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) adalah unit pelaksana teknis
depertemen bertugas membantu pemerintah daerah dalam bentuk supervise
bimbingan, arahan, saran, dan bantuan teknis kepada suatu pendidikan dasar dan
menengah suatu pendidikan non formal
dalam upaya menjamin mutu satuan pendidikan untuk mencapai standar nasional.[19]
Depenisi mutu
memiliki konotasi yang bermacam-macam tergantugng orang yang memakainya. Mutu
berasal dari bahasa latin yakni “quails” yang
berarti What kind of (tergantung kata
apa yang mengikutinya). Mutu menurut Daming ialah kesesuaian dengan kebutuhan.
Mutu menurut Juran ialah kecocokan dengan kebutuhan. Masih dalam buku yang sama
, petikan dari Salis (2003) mengemukakan
mutu adalah konsep yang absolute dan relative. Mutu yang absolute ialah mutu
yang idealismenya tinngi, yang harus dipenuhi, bers tandar tinggi dengan produk
berkwalitas tinggi.Mutu relative dengan
standar yang telah ditetapkan.[20]
Mutu dibidang pendidikan meliputi mutu iput,
proses, output, dan outcome. Input pendidikan dikatakan bermutu jika siap
berproses.Proses pendidokan bermutu apabala mampu menciptakan suasana yang PAKEM
(Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, efektif dan Menyanangkan). Output dikatakan
bermutu apabila hasil belajar akademik dan non akademik siswa tinggi. Outcome
dikatakan bermutu apabila lulusan cepat terserap didunia kerja, gaji wajar,
semua pihak mengakui kehebatan lulusannya dan merasa puas.Dalam dunia
pendidikan mutu lulusan suatu sekolah dinilai berdasarkan kemampuan yang
dimilikinya dengan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum.[21]
Sedangkan menurut Hari
Sudradjad (2005 : 17) pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu
menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau kompotensi, baik kompetensi
akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal
dan sosial, serta nilai-nilai akhlak mulia, yang keseluruhannya merupakan
kecakapan hidup (life skill), lebih lanjut Sudradjat megemukakan pendidikan
bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan manusia seutuhnya
(manusia paripurna) atau manusia dengan pribadi yang integral (integrated
personality) yaitu mereka yang mampu mengintegralkan iman, ilmu, dan amal.[22]
Namun untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan, maka sekolah harus
melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berorientasi pada
peningkatan mutu.
C. Karaktersitik Mutu Pendidikan
Husaini Usman (2006 :
411) mengemukakan 13 (tiga) belas karakteristik yang dimiliki oleh mutu
pendidikan yaitu :
- Kinerja (performa) yakni berkaitan dengan aspek fungsional sekolah meliputi : kinerja guru dalam mengajar baik dalam memberikan penjelasan meyakinkan, sehat dan rajin mengajar, dan menyiapkan bahan pelajaran lengkap, pelayanan administratif dan edukatif sekolah baik dengan kinerja yang baik setelah menjadi sekolah vaforit
- Waktu wajar (timelines) yakni sesuai dengan waktu yang wajar meliputi memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu, waktu ulangan tepat.
- Handal (reliability) yakni usia pelayanan bertahan lama. Meliputi pelayanan prima yang diberikan sekolah bertahan lama dari tahun ke tahun, mutu sekolah tetap bertahan dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
- Data tahan (durability) yakni tahan banting, misalnya meskipun krisis moneter, sekolah masih tetap bertahan
- Indah (aesteties) misalnya eksterior dan interior sekolah ditata menarik, guru membuat media-media pendidikan yang menarik.
- Hubungan manusiawi (personal interface) yakni menunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme. Misalnya warga sekolah saling menghormati, demokrasi, dan menghargai profesionalisme.
- Mudah penggunaanya (easy of use) yakni sarana dan prasarana dipakai. Misalnya aturan-aturan sekolah mudah diterapkan, buku-buku perpustakaan mudah dipinjam di kembalikan tepat waktu.
- Bentuk khusus (feature) yakni keuggulan tertentu misalnya sekolah unggul dalam hal penguasaan teknologi informasi (komputerisasi).
- Standar tertentu (comformence to specification) yakniu memenuhi standar tertentu. Misalnya sekolah tetlah memenuhi standar pelayanan minimal.
- Konsistensi (concistency) yakni keajengan, konstan dan stabil, misalnya mutu sekolah tidak menurun dari dulu hingga sekarang, warga sekolah konsisten dengan perkataanya.
- Seragam (uniformity) yakni tanpa variasi, tidak tercampur. Misalnya sekolah melaksanakan aturan, tidak pandang bulu, seragam dal berpakaian.
- Mampu melayani (serviceability) yakni mampu memberikan pelayanan prima. Misalnya sekolah menyediakan kotak saran dan saran-saran yang masuk mampu dipenuhi dengan baik sehingga pelanggan merasa puas.
- Ketepatan (acuracy) yakni ketepatan dalam pelayanan misalnya sekolah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sekolah.[23]
Mutu
mengandung makna derajat atau tingkat, keunggulan. Mutu pendidikan adalah prestasi yang dicapai oleh
sekolah pada tiap kurung waktu tertentu ( apakah tiap akhir semester, akhir
tahun, dst ).[24]
D. Tujuan Manajemen Kelas
Menurut Usman manajemen kelas
mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1.
Tujuan umum manajemen
kelas adalah menyediakan dan menggunakan pasilitas belajar untuk bermaca-macam
kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
2.
Tujuan khususnya adalah
mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan
kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar serta membantu
siswa untuk mendapat hasil yang diharapkan.[25]
Tujuan
manajemen kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujuan pendidikan secara umum
tujuan manajemen kelas untuk. penyediaan pasilitas bagi bermacam-macam kegiatan
belajar sehingga anak didik terhindar dari masalah yang mengganggu
pembelajaran.[26]
Dengan
demikian dapat dasimpulkan bahwa tujuan manajemen kelas adalah menyediakan,
menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal sehingga siswa dapat belajar
dan bekerja dengan baik, selain itu juga guru dapat mangembangkan dan
menggunakan alat bantu belajar yang digunakan dalampembelajaran sehingga dapat
membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
E. Keterampilan Dalam
Manajemen Kelas
Untuk
menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengantifkan siswa perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1.
Aksesbilitas : Siswa pudah menjangkau alat dan sumber
belajar
2.
Mobilitas : Siswa
dan guru mudah bergerak dari satu bagian kebagian yang lain.
3.
Interaksi :
Memudahkan tejadinya interaksi antara diri siswa maupun antar siswa.
4.
Variasi kerja siswa :
Memungkinkan siswa bekerja secara perorangan atau berpasangan atau berkelompok.[27]
Pada
intinya kemampuan guru didalam memiliki strategi manajemen kelas yang tepat
tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah kelas yang dihadapinya jika
ia tepat menempatkan strategi manajemen kelas maka proses pembelajaran akan
berjalan efektif.
F. Pendekatan Dalam
Manajemen Kelas
Menurut James
Cooper yang dikutip oleh Hendyat Soetopo mengemukakan tiga pendekatan dalam
manajemen kelas. Yaitu pendekatan modifikasi, pendekatan sosio-emosional, dan
pendekatan proses kelompok. Berikut penjelasan ketiga pendekatan diatas :
1. Pendekatan modifikasi prilaku (Behavior modification approach ), pendekatan ini didesain oleh
psikologi Behavioral. yang menganggap prilaku manusia yang baik maupun yang
tidak baik merupakan hasil belajar. Oleh sebab itu perlu membentuk, mempertahankan
perilaku yang dikehendaki dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang
tidakdikehendaki.
Berdasarkan pendekatan ini maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa dalam pendekatan modifikasi perilaku aktivitas di utamakan
pada penguatan tingkah laku siswa yang baik maupun tingkah laku siswa
yangkurang baik, dengan pendekatan ini diharapkan guru dapat merubahtingkah
laku siswa sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.
Teknik-teknik yang dapat
diterapkan adalah:
a). Penguatan negatif
Penguatan
negatif adalah pengurangan hingga penghilangan stimulusyang tidak menyenangkan
untuk mendorong terulangnya perilakuyang diharapkan.
b). Penghapusan
Penghapusan
adalah usaha mengubah tingkah laku subyek didikdengan cara menghentikan respon
terhadap tingkah laku mereka yangsemula dikuatkan oleh respon itu.
c). Hukuman
Yaitu penghentian secara langsung perilaku
anak yang menyimpang.Sebenarnya penguatan negatif dan penghapusan merupakan
hukuman yang tidak langsung. Dengan kata lain hukuman adalah pengajuan stimulus
yang tidak menyenangkandan untuk menghilangkan prilaku peserta didik yang tidak
diharapkan.
2. Pendekatan iklim sosio-emosional (sosio-emotional climate approach), pendekatan sosio-emosional
bertolak dari psikologi klinis dan konseling pandangannya adalah proses belajar
mengajar yang berhasil dengan
mempersyaratkan hubungan sosio-emosional yang baik antara guru dengan
peserta didik.
Dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini mengutamakan hubungan
yang baik antara personal dalam kelas,baik itu guru dengan siswa, maupun siswa
dengan siswa, sehingga siswa merasa aman dan senang dalam kelas serta dapat
berpartisipasi dalam proses belajar mengajar dikelas. Dengan kata lain peran
guru sangat penting dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif dan guru
diharapkan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh siswa serta mampu
menyikapinya dengan baik
3. Pendekatan proses kelompok (group-process approach ), pendekatan proses kelompok yang berangkat
dari psikologi klinis dan dinamika kelompok, dengan anggapan bahwa prases
belajar mengajar yang efektif dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok.
Oleh kerena itu guru harus mengusahakan supaya kelas menjadi suatu ikatan
kelompok yang kuat.[28]
Dapat penulis simpulkan pendekatan proses
kelompok ini bahwa pengalaman belajar siswa didapat dari kegiatan kelompok di
mana dalam kelompok terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh anggotanya,
terdapat tujuan yang ingin dicapai, adanya hubungan timbal balik antar anggota
kelompok untuk mencapai tujuan, serta memelihara kelompok yang produktif.
Jadi
manajemen kelas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemamapuan guru untuk
mengelolah, menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Target
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SDI Hombes Armed Macinna, sedangkan
populasi terjangkau adalah kelas 5 dan 6. Pengambilan sampel dilaksanakan
secara simple random sampling, artinya setiap unsur dalam populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk terambil
sebagai unsure dari sampel. Jumlah siswa kelas 5 dan 6 masing-masing 40 siswa,jadi
jumlah siswa 40 x 2 kelas = 80 siswa. Sampel dalam penalitian ini berjumlah 40
orang untuk diteliti.
B. Instrumen Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksprimen, dengan metode penelitian kwalitatif dan kwantitatif, yang
menganalisis pengaruh yang terjadi
antara variable X dengan variable Y berdasarkan perbedaan mutu belajar
antara kelompok yang diberikan perlakuan manajemen kelas. Dalam penelitian ini
penulis melalui 5 tahapan. Dimana tahap pertama dilakukan prates soal mata
pelajaran tertentu, tahap kedua merupakan tahap pemberian perlakuan kelas
kepada sampel terpilih, tahap ketiga dengan melakukan pemberian soal mata pelajaran
yang telah diajarkan pada kedua kelompok kelas, tahap keempat dilakukan
analisis terhadap mutu belajar kedua kelompok siswa untuk mengetahui apakah
terdapat perbedaan antara kedua kelompok tersebut terhadap hasil tes awal dan
test akhir soal mata pelajaran tersebut , dan terakhir yaitu tahap kelima
merupakan kesimpulan yang terkait dengan hasil penelitian.
C. Prosedur pengumpulan
data
Dalam
melaksanakan kegiatan penelitian eksrimen ini pengumpulan data dilakuakan
dengan tehnik observasi dan angket, dengan melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap persiapan
Persiapan
yang dilakukan berupa penyesuaian waktu belajar disekolah dengan satuan pelajaran dengan
alokasi waktu yang telah ditentukan
2. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan
dimulai dengan pemberian pretest pada kedua kelompok kelas, kemudian
dilanjutkan dengan pamberian perlakuan pada kelas eksprimen dengan konsep dan
model manajamen kelasyang direncanakan peneliti. Kemudian setelah pokok bahasan
tersebut selesai diajarkan pada kelas eksprimen maupun kelas control maka
diadakan test mutu atau hasil berlajar dengan instrument berupa soal pilihan
ganda sebanyak 20 soal dengan criteria
setiap soal dari 1-20 bernilai 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk
jawaban salah.
3. Tahap pelaporan
Tahap
pelaporan merupakan tahap akhir dari penelitian. Pada tahap ini dikemukakan
proses berlangsungnya penelitian dan hasil penelitian.
D. Tehnik Analisis Data
Analisis
data dengan menggunakan data statistic, dalam
penelitian ini terdapat dua variable yang akan diteliti atau diuji yaitu
manajemen kelas sebagai variable bebas (variable X) dan hasil belajar siswa
sebagai pariabel terikat( variable Y).
[3] Alek
w dan Yudha, Optimalisasi peran laboratorium sebagai upaya menyiapkan
pembelajaran kimia di SMU dalam
menghadapi abad ke 21 (Jurnal pdk, juli 2001).no 30 thn ke 7,h. 353
[10]
Udin. S. winata putra(loc.cit.), h. 4.