Sabtu, 04 Agustus 2012

proposal skripsi


BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Manusia dan pendidikan tidak dapat dipisahkan, sebab pendidikan merupakan kunci dari masa depan manusia yang dibekali akal dan pikiran. Pendidikan merupakan peranan penting untuk mejamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
            Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mangembangkan kualitas manusia sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan.[1] Aktisfitas dalam mendidik dan merupakan suatu pekerjaan tersebut, maka dalam pelaksanaannya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan semuanya berkaitan dalam suatu  sistem pendidikan yang integral
           Menurut undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional bab 1 pasal 1.
             Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan   suasana belajar dan prases pembelajaran  agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri, kecerdasan, ahlak mulia serta keteranpilan yang diperlukan baik dirinya , masyarakat, bangsa dan Negaranya.[2]
             Profesionalisme  seorang guru mutlak dilakukan sebagai bekal dalam mengakses  perubahan baik untuk metode pembelajaran ataupua kemajuan teknologi yang kesemuanya ditunjukkan untuk kepentingan proses belajar mengajar.[3]Sebab jika ditinjau dari undang-undang sebagaimana tersebut di atas, tugas guru bukan sekedar   materi pelajaran kepada siswa, tetapi lebih kepada bagaimana menciptakan mereka sebagai sumber daya manusia terampil dan siap mengakses kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta liberaditas yang terjedi dimasa nanti.
           Dalam kaitan proses belajar mengajar hendaknya guru dapat mengarahkan dan membimbing siswa agar lebih aktif kegiatan belajar mengajar sehingga tercipta suatu intrea aksi yang baik antara guru dan siswa. Hal ini senada seperti yang ditulis Madri. M dan Rosmawati bahwa terjadinya proses pembelajaran itu ditandai dengan dua hal, yaitu : (1) Siswa menunjukkan keaktifan, seperti tampak dalam jumlah curahan waktunya untuk melaksanakan tugas ajar, (2) Terjadi perubahan  perilaku yang selaras dengan tujuan pengajaran yang diharapkan.[4]
          Dan untuk mewujudkan hal tersebut perlu diadakan suasana kelas yang mendukung proses belajar mengajar yang dapat membantu efektifitas proses belajar mengajar yaitu:
               Memenggil setiap murid dengan namanya,lalu menunjukkan sikap sopan kepada murid, memastikan bahwa anda tidak menunjukkan sikap pilih kasih terhadap murid tertentu, merencanakan apa yang anda lakukan dalam setiap mata pelajaran, mengungkapkan kepada setiap murid-murid,tentang  apa yang anda ingin capai dalam pelajaran ini, dengan cara tertentu melibatkan setiap murid selama pelajaran, berikan kesempatan pada murid untuk saling berbicara, mengutarakan maksud anda melaksanakan hal yang talah anda katakan kepada murid, dan bersikaplah konsistem dalam menghadapi murid-murid.[5]
          Sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang RI nonor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional bahwa: tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar meajadi manusia yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[6]
          Untuk menarik minat siswa dalam memahami konsep-konsep yang tercakup dalam kurikulum khususnya semua mata pelajaran yang ada di sekolah dasar secara keseluruhan tidak mudah. Menurut Naasrum dan forum pendidikan mengemukakan bahwa guru dituntut mampu memiliki dan menggunakan media m3dia pengajaran sesuai dengan materi yang akan disajikan, dituntut mampu menggunakan metode mengajar secara stimulant untuk menghidupkan suasana pengajaran yang baik.[7]
 Tugas guru adalah mendiagnosis kebutuhan belajar, merencanakan pelajaran, memberikan potensi, memberikan pertanyaan dan mengevaluasi pengajaran. Manajemen yang efektif merupakan prasyarat yang kritis bagi kegiatan intruksional yang efektif agar seorang guru mengelola kelas hendaklah ia mampu mengantisipasitingkah laku siswa yang salah dan mencegahtingkah laku demikian agar tidak terjadi.[8]
 Langkah yang dapat dilakukan agar dapat tercapai tujuan pembelajaran adalah melaksanakan pengembangan dalam pengajaran dan pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan alat peraga atau prototype subyek/obyek materi sebagai alat bantu siswa dalam memahami konsep-konsep materi, serta pembenahan system pantilasi kelas agar tercipta lingkungan kelas yang nyaman, praktek, pembentukan kelompok belajar dan diharapkan pengembangan  pembelajaran serta pengajaran tersebut siswa dapat lebih memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
         Dengan melihat konteks tersebut manajemen kelas dapat dipandang suatu usaha yang sangat penting dan harus mendapat prioritas seorang guru dalam berbagai macam aktivitas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan siswa. Upaya yang dilakukan adalah dengan pemberian kepada siswa untuk melaksanakan kegiatan kreatif dan terarah.
         Mata pelajaran disekolah dasar merupakan wahana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan sikap dan nilai serta tanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat bangsa dan Negara. Materi-materi yang disajikan disekolah dasar merupakan dasar untuk memperoleh materi kejenjang berikutnya.
         Untuk meningkatkanhasil belajar di sekolah dasar, dapat diwujudkan dengan pengelolaan kelas atau manajemen kelas yang beriorentasi pada siswa, artinya guru harus  memberi pengalaman secara langsung serta merangsang proses belajar mengajar dikelas yang memberi banyak kesempatan kepada siswa, untuk mengembangkan pengetahuan dan menerapkan hal-hal dipelajari.
Oleh karena itu penulis ingin menuangkan dalam bentuk karya ilmia yang berjudul “ Pengaruh Manajemen Kelas Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan Di Sdi Hombes Armed “

B. Rumusan Masalah
         Dari uraian yang telah dipaparkan diatas ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasi diantaranya :
1.    Adanya manajemen kelas lebih baik disbanding tanpa adanya manajemen kelas
2.    Manajemen kelas yang digunakan oleh guru mempengaruhi hasil belajar yang mengarah kepeda peningkatan mutu pendidikan.
3.    Cara memenej kelas pada siswa dan dapat menciptakan iklim kelas yang baik.
         Dari beberapa masalah yang dapat diidentifikasi maka manajemen kelas pada siswa mampu ditempatkan sebagai pusat dari proses bslajar mengajar yang mengarah kepada mutu pendidikan,dan masalah penalitian dapat darumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh manajemen kelas yang digunakan guru terhadap mutu pendidikan?



C.     Pengertian Judul
             Dalam Proses pembelajaran di kelaas yang sangat urugen untuk dilakukan seorang guru adalah mengupayakan, menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik. Maka dari itu penting sekali bagi seorang guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik dan untuk mencapai tingkat efektifitas yang optimal dalam kegiatan intruksionl, kemampuan memenej kelas merupakan salahsatu factor yang juga harus dikuasai oleh seorang guru kemampuan tersebut yang kemudian disebut kemampuan manajemen kelas. Sedangkan mutu mengandung makna derajat (tingkat) Keunggulan, pengertian mutu dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan.[9]
            Jadi pengertian pengaruh manajemen kelas terhadap mutu pendidikan adalah usaha guru untuk mengelolah, menciptakan, memelihara dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif demi tercapainya peningkatan dan tujuan akademik

 D. Tujuan Dan Kegunaan
a. ,Tujuan
-  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh,  manajemen kelas terhadap peningkatan mutu pendidikan.
-  Sebagai umpan balik terhadap kemampuan memenej kelas yang dimiliki seorang guru supaya supaya lebih ditingkatkan agar proses pembelajaran lebih beriorentasi pada siswa.

b. Kegunaan
- Sebagai bekal pengetahuan mengenai manajemen kelas dalam meningkatkan mutu dan dapat diterapkan dengan baik dalam      proses belajar mengajar
 - Sebagai bahan perbandingan antara kelas yang menggunakan manajemen dan yang tidak menggunakan tindakan manajemen kelas

E. Garis Besar Isi Skripsi
           Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan   men.gembangkan kualitas manusia dimana dijelaskan dalam Undang-undang RI No 20 th 2003 tentang system pendidikan nasional yang bertujuan untuk menciptakan manusia seutuhnya. Demi terlaksananya tujuan pendidikan nasional maka profesionalisme seorang guru sangat diperlukan dalam mengakses perubahan yang kesemuanya ditujukan untuk kegiatan proses belajar mengajar.
           Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa dalm melaksanakan tugas sebagai pengajar, guru dihadapkan pada dua tugas utama yaitu menyampaikan materi pembelajaran dan manajemen kelas. Dalam menyampaikan materi pembelajaran guru dihadapkan pada masalah masalah pembelajaran dan dalam manajemen kelas guru dihadapkan pada masalah masalah pengelolaan kelas.[10]















BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.   Pengertian Manajemen Kelas
         Sebelum memberikan pengartian tentang manajemen kelas berikut ini adalah pengertian tentang kelas yang dikemukakan oleh purnomo, bahwa kelas adalah ruangan belajar (lingkungan fisik) dan rombongan belajar (lingkungan emodional).[11]
         Lingkungan fisik meliputi : (1) ruangan, (2) keindahan kelas, (3)pengaturan tempat duduk, (4) pengaturan sarana dan alat pengajaran, (5) pasilitas dan pengaturan cahaya. Sedangkan lingkungan sosia-emosional meliputi : (1) tipe kepemimpinan guru, (2) sikap guru,(3)suara guru, (4) Dan pembinaan hubungan yang baik.[12]
Istilah manajemen kelas (class roommanagement) yang berarti manajemen kelas atau pengelolaan kelas, yang dapat didepenisikan bermacam-macam tergantung sudut pandang yang adi pakai.
Weber (1977) mengemukakan tiga pendapat tentang pengertian manajemen kelas. Pertama, manajemen kelas adalah serangkaian kagiatan yang dilakukan guru untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkahlaku yang tidak diharapkan.Kedua, manajemen kelas adalah serangkaian kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif. Ketiga, manajemen kelas adalah serangkaian kegiatan guru untuk menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang efektif. Sedangkan menurut  winzer (1995) manajemen kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan pada siswa untuk mencapai tujuan akademik.[13]
         Sedangkan pengelolaan kelas itu sendiri yang dikemukakan oleh Usman, bahwa “Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untukmenciptakan dam memelihara kondisi belajar yang optimal  dan bisa mengontrol kembali jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.[14]
         Sedangkan menurut Wina sanjaya bahwa manajamen kelas adalah keterampilan guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang optimal dan mengembalikannya mana kala terjadi kondisi kelas yang dapat mengganggu pembelajaran.[15]
1. Pengertian Pengelolaan Kelas
         Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan (manajemen) dalam pengertian umum menurut Suharsini Arikunto adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas menurut Oemar Hamalik adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru.[16]
Secara etimologis, pengelolaan kelas ialah usaha guru untuk menciptakan, memelihara dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif (Udin S. Winataputra).[17] Pengertian ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Winzer yang menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademik dan social.
2. Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, tercapainya suasana social yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Suharsini Arikkunto berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak didik di kelas dapat belajar dan bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
3. Penataan Lingkungan Kelas
Guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar menarik, aman, nyaman dan kondusif di kelas, keberadaannya ditengah-tengah siswa dapat mencairkan suasana kebekuan, kekakuan dan kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para siswa. Iklim yang tidak kondusif akan berdampak negative terhadap proses pembelajaran dan sulitnya tercapai tujuan pembelajaran, siswa akan merasa gelisah, resah, bosan dan jenuh. Sebaliknya iklim belajar yang kondusif dan menarik dapat dengan mudah tercapainya tujuan pembelajaran, dan proses pembelajaran yang dilakukan menyenangkan bagi peserta didik.
Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tertib, optimalisme merupakan harapan yang tinggi bagi seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik merupakan iklim yang dapat membangkitkan gairah, semangat dan napsu belajar.
Dalam implementasi kurikulum 2004, para ahli menyarankan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan akademik, baik secara fisik maupun nonfisik lingkungan fisik merupakan kondisi belajar yang harus didukung oleh berbagai sarana, laboratorium dan media lain. Lingkungan nonfisik memiliki peran yang besar juga dalam mempengaruhi kondisi belajar, terutama pengaturan lingkungan belajar, penampilan, sikap guru, hubungan harmonis antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan guru, dan sesame peserta didik itu sendiri,serta organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat, sesuai dengan kemampuan dan perkembangan peserta didik.[18]
a. Penataan Lingkungan Fisik Kelas
Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruangan kelas yang menarik, efektif dan mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat bagi siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Penataan tempat duduk yang mengganggu lalu lintas selama kegiatan pembelajaran, dan penempatan barang-barang yang tidak sesuai dengan fungsinya, dapat menghambat berlangsungnya proses pembelajaran. Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik, guru harus menata tempat duduk dan barang-barang yang ada di ruangan kelas sehingga dapat mendukung dan memperlancar proses pembelajaran.
Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa, dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu penataan kelas harus memungkinkan guru dapat memantau semua tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah disiplin. Melalui penataan kelas, diharapkan siswa dapat memusatkan perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif.
Menurut Louisell, ketika menata lingkungan fisik kelas, guru harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Visibility (keleluasan pandangan), artinya penempatan atau penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa sehingga mereka secara leluasa dapat memandang guru, benda, atau kegiatan yang sedang berlangsung.
2. Accebility (mudah dicapai), artinya barang-barnag atau alat-alat yang biasa digunakan oleh siswa dalam proses pembelajaran mudah dijangkau.
3. Fleksibilitas (keluwesan), artinya barang-barang yang ada di dalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswa dan guru.
4. Kenyamanan, baik bagi siswa maupun bagi guru sendiri.
5. Keindahan, berkenaan dengan usaha guru menata ruangan kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan, berpengaruh positif terhadap sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
b. Penataan Lingkungan Psiko-Sosial Kelas
Iklim psikososial kelas berkenaan dengan hubungan social pribadi antara guru dan siswa, serta antar siswa itu sendiri. Hubungan yang haronis antara guru dan siswa, serta antar siswa akan dapat menciptakan iklim psiko social kelas yang sehat, dan efektif bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
Berkenaan dengan pengelolaan iklim psiko social kelas, Bandura menyatakan bahwa keberhasilan guru dalam mengelola iklim psiko social kelas dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri. Berikut beberapa karakteristik yang harus dimiliki guru demi terciptanya iklim psiko social kelas yang efektif bagi kelangsungan proses pembelajaran.

a. Disukai oleh siswanya
b. Memiliki persepsi yang realistik tentang dirinya dan siswanya.
c. Akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru-siswa
d. Bersikap positif terhadap pertanyaan/respon siswa
e. Sabar, teguh dan tegas
Karena begitu pentingnya pengelolaan kelas, baik yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas maupun psiko sosial kelas, maka diharapkan seorang guru memahami hal ini semua.
         Dari beberapa pengertian manajemen kelas diatas disimpulkan pengertian manajemen kelas adalah segala usaha yang dilakukan guru untuk mengelolah, menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih efektif, kondusif. dan menyenangkan sehingga siswa termotifasi untuk belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan.

B. Pengertian Mutu Pendidikan
          Lembaga penjamin mutu pendidikan  (LPMP) adalah unit pelaksana teknis depertemen bertugas membantu pemerintah daerah dalam bentuk supervise bimbingan, arahan, saran, dan bantuan teknis kepada suatu pendidikan dasar dan menengah  suatu pendidikan non formal dalam upaya menjamin mutu satuan pendidikan untuk mencapai standar nasional.[19]
         Depenisi mutu memiliki konotasi yang bermacam-macam tergantugng orang yang memakainya. Mutu berasal dari bahasa latin yakni “quails” yang berarti What kind of (tergantung kata apa yang mengikutinya). Mutu menurut Daming ialah kesesuaian dengan kebutuhan. Mutu menurut Juran ialah kecocokan dengan kebutuhan. Masih dalam buku yang sama , petikan dari   Salis (2003) mengemukakan mutu adalah konsep yang absolute dan relative. Mutu yang absolute ialah mutu yang idealismenya tinngi, yang harus dipenuhi, bers tandar tinggi dengan produk berkwalitas tinggi.Mutu relative  dengan standar yang telah ditetapkan.[20]
          Mutu dibidang pendidikan meliputi mutu iput, proses, output, dan outcome. Input pendidikan dikatakan bermutu jika siap berproses.Proses pendidokan bermutu apabala mampu menciptakan suasana yang PAKEM (Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, efektif dan Menyanangkan). Output dikatakan bermutu apabila hasil belajar akademik dan non akademik siswa tinggi. Outcome dikatakan bermutu apabila lulusan cepat terserap didunia kerja, gaji wajar, semua pihak mengakui kehebatan lulusannya dan merasa puas.Dalam dunia pendidikan mutu lulusan suatu sekolah dinilai berdasarkan kemampuan yang dimilikinya dengan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum.[21]
       Sedangkan menurut Hari Sudradjad (2005 : 17) pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau kompotensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, serta nilai-nilai akhlak mulia, yang keseluruhannya merupakan kecakapan hidup (life skill), lebih lanjut Sudradjat megemukakan pendidikan bermutu  adalah pendidikan yang mampu menghasilkan manusia seutuhnya (manusia paripurna) atau manusia dengan pribadi yang integral (integrated personality) yaitu mereka yang mampu mengintegralkan iman, ilmu, dan amal.[22]
 Namun untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan, maka sekolah harus melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)  yang berorientasi pada peningkatan mutu. 

C. Karaktersitik Mutu Pendidikan
Husaini Usman (2006 : 411) mengemukakan 13 (tiga) belas karakteristik yang dimiliki oleh mutu pendidikan yaitu :
  • Kinerja (performa) yakni berkaitan dengan aspek fungsional sekolah meliputi : kinerja guru dalam mengajar baik dalam memberikan penjelasan meyakinkan, sehat dan rajin mengajar, dan menyiapkan bahan pelajaran lengkap, pelayanan administratif dan edukatif sekolah baik dengan kinerja yang baik setelah menjadi sekolah vaforit
  • Waktu wajar (timelines) yakni sesuai dengan waktu yang wajar meliputi memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu, waktu ulangan tepat.
  • Handal (reliability) yakni usia pelayanan bertahan lama. Meliputi pelayanan prima yang diberikan sekolah bertahan lama dari tahun ke tahun, mutu sekolah tetap bertahan dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
  • Data tahan (durability) yakni tahan banting, misalnya meskipun krisis  moneter, sekolah masih tetap bertahan
  • Indah (aesteties) misalnya eksterior dan interior sekolah ditata menarik, guru membuat media-media pendidikan yang menarik.
  • Hubungan manusiawi (personal interface) yakni menunjung tinggi  nilai-nilai moral dan profesionalisme. Misalnya warga sekolah saling menghormati, demokrasi, dan menghargai profesionalisme.
  • Mudah penggunaanya (easy of use) yakni sarana dan prasarana dipakai. Misalnya aturan-aturan sekolah mudah diterapkan, buku-buku perpustakaan mudah dipinjam di kembalikan tepat waktu.
  • Bentuk khusus (feature) yakni keuggulan tertentu misalnya sekolah unggul dalam hal penguasaan teknologi informasi (komputerisasi).
  • Standar tertentu (comformence to specification) yakniu memenuhi standar tertentu. Misalnya sekolah tetlah memenuhi standar pelayanan minimal.  
  • Konsistensi (concistency) yakni keajengan,  konstan dan stabil, misalnya mutu sekolah tidak menurun dari dulu hingga sekarang, warga sekolah konsisten dengan perkataanya.
  • Seragam (uniformity) yakni tanpa variasi, tidak tercampur. Misalnya sekolah melaksanakan aturan, tidak pandang bulu, seragam dal berpakaian.
  • Mampu melayani (serviceability) yakni mampu memberikan pelayanan prima. Misalnya sekolah menyediakan kotak saran dan saran-saran yang  masuk mampu dipenuhi dengan baik sehingga pelanggan merasa puas. 
  • Ketepatan (acuracy) yakni ketepatan dalam pelayanan misalnya sekolah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sekolah.[23]
            Mutu mengandung makna derajat atau tingkat, keunggulan. Mutu  pendidikan adalah prestasi yang dicapai oleh sekolah pada tiap kurung waktu tertentu ( apakah tiap akhir semester, akhir tahun, dst ).[24]

D. Tujuan Manajemen Kelas
            Menurut Usman manajemen kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1.    Tujuan umum manajemen kelas adalah menyediakan dan menggunakan pasilitas belajar untuk bermaca-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
2.    Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar serta membantu siswa untuk mendapat hasil yang diharapkan.[25]

            Tujuan manajemen kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujuan pendidikan secara umum tujuan manajemen kelas untuk. penyediaan pasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar sehingga anak didik terhindar dari masalah yang mengganggu pembelajaran.[26]
            Dengan demikian dapat dasimpulkan bahwa tujuan manajemen kelas adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan baik, selain itu juga guru dapat mangembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang digunakan dalampembelajaran sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.

E. Keterampilan Dalam Manajemen Kelas
            Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengantifkan siswa perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Aksesbilitas   : Siswa pudah menjangkau alat dan sumber belajar
2. Mobilitas        :  Siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian kebagian yang lain.
3. Interaksi       :  Memudahkan tejadinya interaksi antara diri siswa maupun antar siswa.
4. Variasi kerja siswa : Memungkinkan siswa bekerja secara perorangan atau berpasangan atau berkelompok.[27]

            Pada intinya kemampuan guru didalam memiliki strategi manajemen kelas yang tepat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah kelas yang dihadapinya jika ia tepat menempatkan strategi manajemen kelas maka proses pembelajaran akan berjalan efektif.

F. Pendekatan Dalam Manajemen Kelas
         Menurut James Cooper yang dikutip oleh Hendyat Soetopo mengemukakan tiga pendekatan dalam manajemen kelas. Yaitu pendekatan modifikasi, pendekatan sosio-emosional, dan pendekatan proses kelompok. Berikut penjelasan ketiga pendekatan diatas :

1. Pendekatan modifikasi prilaku (Behavior modification     approach ), pendekatan ini didesain oleh psikologi Behavioral. yang menganggap prilaku manusia yang baik maupun yang tidak baik merupakan hasil belajar. Oleh sebab itu perlu membentuk, mempertahankan perilaku yang dikehendaki dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidakdikehendaki.
 Berdasarkan pendekatan ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam pendekatan modifikasi perilaku aktivitas di utamakan pada penguatan tingkah laku siswa yang baik maupun tingkah laku siswa yangkurang baik, dengan pendekatan ini diharapkan guru dapat merubahtingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.
Teknik-teknik yang dapat diterapkan adalah:
a). Penguatan negatif
Penguatan negatif adalah pengurangan hingga penghilangan stimulusyang tidak menyenangkan untuk mendorong terulangnya perilakuyang diharapkan.

b). Penghapusan
Penghapusan adalah usaha mengubah tingkah laku subyek didikdengan cara menghentikan respon terhadap tingkah laku mereka yangsemula dikuatkan oleh respon itu.
c). Hukuman
 Yaitu penghentian secara langsung perilaku anak yang menyimpang.Sebenarnya penguatan negatif dan penghapusan merupakan hukuman yang tidak langsung. Dengan kata lain hukuman adalah pengajuan stimulus yang tidak menyenangkandan untuk menghilangkan prilaku peserta didik yang tidak diharapkan.

2. Pendekatan iklim sosio-emosional (sosio-emotional climate approach), pendekatan sosio-emosional bertolak dari psikologi klinis dan konseling pandangannya adalah proses belajar mengajar yang berhasil dengan  mempersyaratkan hubungan sosio-emosional yang baik antara guru dengan peserta didik.
Dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini mengutamakan hubungan yang baik antara personal dalam kelas,baik itu guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa, sehingga siswa merasa aman dan senang dalam kelas serta dapat berpartisipasi dalam proses belajar mengajar dikelas. Dengan kata lain peran guru sangat penting dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif dan guru diharapkan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh siswa serta mampu menyikapinya dengan baik
3. Pendekatan proses kelompok (group-process approach ), pendekatan proses kelompok yang berangkat dari psikologi klinis dan dinamika kelompok, dengan anggapan bahwa prases belajar mengajar yang efektif dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok. Oleh kerena itu guru harus mengusahakan supaya kelas menjadi suatu ikatan kelompok yang kuat.[28]
 Dapat penulis simpulkan pendekatan proses kelompok ini bahwa pengalaman belajar siswa didapat dari kegiatan kelompok di mana dalam kelompok terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh anggotanya, terdapat tujuan yang ingin dicapai, adanya hubungan timbal balik antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan, serta memelihara kelompok yang produktif.
 Jadi manajemen kelas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemamapuan guru untuk mengelolah, menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal.










                     
BAB III                                                                             METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel
            Target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SDI Hombes Armed Macinna, sedangkan populasi terjangkau adalah kelas 5 dan 6. Pengambilan sampel dilaksanakan secara simple random sampling, artinya setiap unsur dalam populasi mempunyai kesempatan  yang sama untuk terambil sebagai unsure dari sampel. Jumlah siswa  kelas 5 dan 6 masing-masing 40 siswa,jadi jumlah siswa 40 x 2 kelas = 80 siswa. Sampel dalam penalitian ini berjumlah 40 orang untuk diteliti.

B. Instrumen Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksprimen, dengan metode penelitian kwalitatif dan kwantitatif, yang menganalisis pengaruh yang terjadi  antara variable X dengan variable Y berdasarkan perbedaan mutu belajar antara kelompok yang diberikan perlakuan manajemen kelas. Dalam penelitian ini penulis melalui 5 tahapan. Dimana tahap pertama dilakukan prates soal mata pelajaran tertentu, tahap kedua merupakan tahap pemberian perlakuan kelas kepada sampel terpilih, tahap ketiga dengan melakukan pemberian soal mata pelajaran yang telah diajarkan pada kedua kelompok kelas, tahap keempat dilakukan analisis terhadap mutu belajar kedua kelompok siswa untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara kedua kelompok tersebut terhadap hasil tes awal dan test akhir soal mata pelajaran tersebut , dan terakhir yaitu tahap kelima merupakan kesimpulan yang terkait dengan hasil penelitian.

C. Prosedur pengumpulan data   
            Dalam melaksanakan kegiatan penelitian eksrimen ini pengumpulan data dilakuakan dengan tehnik observasi dan angket, dengan melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap persiapan
            Persiapan yang dilakukan berupa penyesuaian waktu belajar  disekolah dengan satuan pelajaran dengan alokasi waktu yang telah ditentukan
2. Tahap pelaksanaan
            Pelaksanaan dimulai dengan pemberian pretest pada kedua kelompok kelas, kemudian dilanjutkan dengan pamberian perlakuan pada kelas eksprimen dengan konsep dan model manajamen kelasyang direncanakan peneliti. Kemudian setelah pokok bahasan tersebut selesai diajarkan pada kelas eksprimen maupun kelas control maka diadakan test mutu atau hasil berlajar dengan instrument berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal dengan criteria  setiap soal dari 1-20 bernilai 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban salah.
3. Tahap pelaporan
            Tahap pelaporan merupakan tahap akhir dari penelitian. Pada tahap ini dikemukakan proses berlangsungnya penelitian dan hasil penelitian.

D. Tehnik Analisis Data
            Analisis data dengan menggunakan  data statistic, dalam penelitian ini terdapat dua variable yang akan diteliti atau diuji yaitu manajemen kelas sebagai variable bebas (variable X) dan hasil belajar siswa sebagai pariabel terikat( variable Y).


                       
 








                                                                               
            

              

  



                [1] Syaiful Bahri Djamara, Guru dan anak didik dalam interaksi idukatif suatu pendekatan teori psikologis,(Jakarta : PT.Rineka cipta, edisi revisi, cetakan ketiga September 2005 ). H.22 
               [2]  Undang-undang nomor 20 tentang system pendidikan nasional  (Jakarta : CV, mini jaya abadi, 2003).h.5
             [3]  Alek  w  dan Yudha, Optimalisasi peran laboratorium sebagai upaya menyiapkan pembelajaran   kimia di SMU dalam menghadapi abad ke 21 (Jurnal pdk, juli 2001).no 30 thn ke 7,h. 353

          
                 [4] Madri M dan Rosmawati, Pemahaman guru tentang strategi pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar (Jurnal pelajaran, Desember 2004) No. 3, h. 274
                [5] Mary Underwood, Pengelolaan kelas yang efektif suatu pendekatan praktis (Penerbit  Arcan, 2000) h. 39
               [6]  Undang-undang nomor 20 tahun 2003 (op.cit,h.5)
               [7]  Nasrum, Media, metode dan pengelolaan kelas terhadap keberhasilan praktek lapangan pendidikan (forum pendidikan :Universitasnegeri Padang,xxvI ( 04), Desember,2001 ) h.428
               [8] Ibid.h.429
           [9] Udin.S. Winataputra, Strategi belajar mengajar (Jakarta 1997) h. 15        
[10] Udin. S. winata putra(loc.cit.), h. 4.
             [11]Purnomo, Strategi Pengajaran, (Yogyakarta : Universitas Sanata Darma, Yogyakarta, 2005),h. 3.
              [12]Ibid. h. 17
           [13] Udin S Winataputra ( loc cit) h.4
           [14] Moh. Unser usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007). h.97.
           [15] Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam  implementasi kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta : Kencana  Prenada M
           [16] Santridarus.blogspot.com/2008/05/pengelolaan-kelas.html diakses pada tanggal 29 juni 2012
           [17] Udin. S. winataputra (op.cit), h. 20
            [18] Santridarus.blogspot.com(lop.cit)
           [19]  Peraturan pemerintah RI no 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan (Sinar grafika) h, 4
           [20] Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktek Dan Riset Pendidikan.(Jakarta : Bumi Aksara, 2006), h.408.
           [21] Ibid, h. 410.
           [22] Hari suderadjat, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Implementasi KBK, ( Bandung : Cipta Lekas Grapika, 2005), H. 17
           [23]  Usaini Usman ( Op.Cit ), H. 411
           [24] Udin. S. winataputra ( loc.cit ), h. 15.
           [25]  Moh Unzer Usman (loc.cit), h. 77.
           [26]  Hendyat Soetopo, Pendidikan dan pembelajaran, teori permasalahan dan praktek (Malang, 2005 ),h. 200.
             [27]  Boediono,( Balitbang Depdiknas, 2002), h.8.
         [28] Hendyat Soetopo, ( op.cit ), h.201-202. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar